Lombokvibes.com, Lombok Utara – Di tengah hiruk pikuk tugas sekolah dan tantangan remaja masa kini, ratusan siswa SMA Negeri 1 Tanjung berhenti sejenak. Mereka duduk tenang, menyimak bukan sekadar ceramah, tapi sebuah ajakan reflektif: “Apakah Kamu Teman Baikku?”
Bukan panggung formal yang kaku, bukan pula materi yang menggurui.
Di hadapan para pelajar, Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara, Ny. Heny Agus Purwanta, menyulap ruang aula menjadi tempat bertumbuhnya kesadaran baru. Bahwa di balik tawa bersama teman, ada nilai-nilai yang perlu dijaga: kejujuran, empati, dan keberanian untuk saling peduli.
“Remaja hari ini sedang dalam perjalanan mencari jati diri. Dan seringkali, siapa teman di sekelilingnya—menentukan arah hidup mereka,” ujar Ny. Heny dengan suara tenang namun penuh makna.
Lebih dari sekadar menyampaikan materi, Ny. Heny berbagi pengalaman dan empati. Ia membongkar realitas bahwa banyak luka remaja bermula dari pertemanan toksik—bullying, tekanan sosial, hingga penyimpangan perilaku. Lalu ia menanamkan konsep “self-love” sebagai kunci bertahan di tengah badai.
“Kalau kamu tidak mencintai dirimu, bagaimana kamu bisa menjaga dan mencintai orang lain? Self-love bukan egois. Itu pondasi,” katanya.
Di hadapan siswa yang biasanya aktif berselancar di media sosial, perempuan yang juga dosen di Politeknik PGRI Banten ini berhasil menyambungkan logika dan rasa. Sebagai penulis belasan buku ilmiah, ia tahu cara menyederhanakan konsep besar menjadi kalimat yang membekas di hati.
Ada momen hening. Ada siswa yang tertunduk. Bukan karena bosan, tapi karena tersentuh.
Figur Bhayangkari pun hadir berbeda hari itu. Bukan sekadar organisasi pendamping polisi, tapi seperti yang Ny. Heny sampaikan—“Bhayangkari bisa jadi ibu kedua. Sosok yang tak menghakimi, tapi mendengar. Yang tak langsung memberi solusi, tapi menemani kegelisahan.”
Pembina OSIS, Hawa Umasangaji, S.Pd., tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Ia menyebut bahwa siswa yang biasanya canggung saat berbicara tentang perasaan, justru sangat aktif berdiskusi.
“Banyak yang mulai menyadari bahwa menjadi teman bukan soal popularitas, tapi tentang siapa yang tetap ada saat kamu terjatuh,” ujarnya.
Lebih dari seminar biasa, kegiatan ini menjadi ruang aman yang jarang dimiliki remaja. Di akhir sesi, ketika Ny. Heny mengucapkan kalimat terakhirnya, aula sunyi sejenak.
“Didiklah tanpa menghakimi. Temani tanpa menggurui. Tegurlah tanpa menyakiti,” ucapnya, dan beberapa siswa terlihat menyeka air mata.
Di balik bangku SMA hari itu, bukan hanya pelajaran yang tersampaikan. Tapi juga penguatan karakter, kesadaran emosional, dan rasa hangat yang mungkin akan mereka kenang bertahun-tahun ke depan.
Bhayangkari Lombok Utara tidak hanya datang membawa pesan. Mereka membangun jembatan hati—dan itu yang paling dibutuhkan remaja hari ini.

































