Cara unik Komunitas Literasi Anak Gunung Kakong, ajari anak-anak kenal lebih dekat dengan alam & tanpa gawai lewat kelas “Coret”

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Lombokvibes.com, Lombok Utara– Tak banyak bicara, sunyi namun menginspirasi, itulah yang dilakukan Komunitas Literasi Anak Gunung di Dusun Kakong, Desa Selelos, Kecamatan Gangga, Lombok Utara. Komunitas ini membuat sekolah alternatif untuk anak-anak di pelosok Lombok Utara. Anak-anak dibuat lebih dekat dengan alam sekitar, dongeng, dan kreativitas yang perlahan semakin hilang oleh gempuran layar gawai.

Digagas oleh Joy Jundan Kelana atau yang akrab disapa Jojuke dan De Galih Mulyadi, komunitas Literasi Anak Gunung lahir dari keresahan melihat anak-anak usia sekolah yang kian hari makin larut dalam kecanduan gawai. Mereka merasa anak-anak makin jauh dari alam, dari cerita rakyat, dan dari kegiatan yang menumbuhkan kreativitas serta kepedulian sosial.

Sudah dua tahun berjalan, kampung literasi ini rutin menggelar berbagai kegiatan edukatif. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah “Kelas Coret”, sebuah kelas melukis yang dikemas interaktif. 

Di sini, anak-anak diajak untuk menjelajah alam sekitar, mengamati tumbuhan dan hewan yang mereka temui, lalu menuangkannya dalam bentuk lukisan lengkap dengan nama, nama latin, manfaat, dan deskripsinya. Di akhir sesi, masing-masing anak diminta mempresentasikan karyanya di depan teman-temannya.

  • 6f1d2df0-56d2-4140-ac65-b46a34685de9

Menurut Jojuke, kegiatan ini bukan sekadar belajar melukis, tapi juga latihan berpikir kritis, percaya diri, dan tentu saja, mengenalkan mereka kembali pada alam yang kini mulai terlupakan.

“Jadi kemarin itu temanya melukis dan mengenal. Adek-adek kita minta mencari apa saja yang ada di sekitar mereka, kemudian dijadikan lukisan. Setelah itu, mereka maju satu-satu untuk presentasi. Ini jadi momen mereka belajar tampil dan percaya diri,” ujarnya (10/7/2025).

Ia menyebutkan, meski kegiatan ini tidak selalu dilakukan di akhir pekan, namun setiap minggu, ada saja agenda kreatif yang disusun oleh tim. Dari latihan teater, mendongeng, membaca buku bersama, hingga eksperimen kecil yang membuat anak-anak semakin akrab dengan dunia literasi.

“Pendidikan tidak harus selalu berlangsung di ruang kelas,” ujarnya.

Diceritakan dia, Literasi Anak Gunung tetap hidup dan semangat karena pemuda-pemudi di Dusun Kakong terlibat aktif. Mereka secara semangat dan kolektif menghidupkan kelas-kelas kreatif di Komunitas ini. Mereka ikut merancang, menyiapkan, dan menjalankan setiap kegiatan secara gotong royong.

“Mereka bantu persiapan, ikut kegiatan juga. Enaknya di sini, teman-teman antusias kalau diajak kumpul dan kerja bareng,” tambahnya.

  • b7600700-2fcf-4703-b93c-09158a936158

Dia pun berharap, Komunitas ini tetap hidup dan terus menebar manfaat. Terutama bagi anak-anak di pelosok. Meski saat ini, para peserta didik baru berasal dari Desa Selelos, namun Komunitas Literasi Anak Gunung terbuka untuk menerima anak-anak dari luar.

< a title=" milad bima 2025" target="_blank">

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *