Dari kampung ke Getty Images: Perjalanan epik Alam Kundam, fotografer Lombok Utara yang karyanya diminati dunia

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Lombokvibes.com, Lombok Utara– Alam Kundam bukan sekadar fotografer biasa. Ia adalah saksi perjalanan panjang kamera dari zaman film manual hingga era digital global. 

Lahir di Dusun Luk, Desa Sambik Bangkol,  Lombok Utara, kisahnya bermula dari hobi memotret saat remaja, lalu berubah menjadi profesi dan gaya hidup yang membawanya keliling Indonesia, bahkan dikenal dunia.

Pada pertengahan 1990-an, Alam merantau ke Jakarta. Di sanalah ia pertama kali bersentuhan secara serius dengan dunia visual. Tak hanya belajar fotografi, ia juga aktif di rumah produksi film televisi, bahkan menjadi dubber untuk film-film India. 

Namun krisis moneter membuatnya kembali ke kampung halaman. Pulang bukan berarti mundur. Justru di Lombok ia menemukan gairah baru: memotret keluarga TKI dan mengeksplorasi tema human interest dengan kamera film.

Meski DSLR mulai ramai di akhir 90-an, Alam tetap setia dengan kamera manual. Baru pada 1999 ia mulai tergoda untuk menjajal teknologi baru. Kamera DSLR pertamanya, Nikon D60, membuka lebih banyak peluang eksplorasi visual di tanah kelahirannya.

Tak hanya diam di balik kamera, Alam juga menjadi videografer. Handycam Hi8-nya merekam berbagai momen pernikahan dan video klip lagu Sasak. 

Kariernya sebagai jurnalis visual dimulai ketika ia menjadi kameramen untuk SCTV di NTB bersama jurnalis Adhar Hakim. Ia pernah meliput berbagai peristiwa besar, termasuk rekonstruksi Bom Bali, bahkan sempat menjadi kameramen Rosiana Silalahi.

Namun jiwa senimannya tak ingin terjebak di balik berita. Setelah berpindah ke Indosiar dan TPI, ia memutuskan berhenti dari dunia TV pada 2007 dan kembali ke akar: memotret dan membuat video musik daerah. Ia membentuk band bernama Kemos, meskipun, katanya sambil tertawa, “Sering ikut festival tapi nggak pernah menang,” katanya kepada Lombokvibes.com, kemarin.

Tahun 2008, Alam mulai menjelajahi dunia mural dan menerima banyak pesanan untuk melukis tembok sekolah hingga rumah pribadi. Lalu pada 2009, ia membangun studio shooting rumahan dengan bantuan dana dari mertua, menyimpan rapi seluruh arsip fotonya di hardisk.

Titik balik terjadi di 2016. Saat iseng menjelajah Google Play, ia menemukan aplikasi EyeEm. Sebuah platform foto asal Berlin yang memberinya jalan menuju panggung internasional. 

“Saya cocok banget sama EyeEm,” kata pria kelahiran 17 Agustus 1977 itu. 

Ia pun mulai mengunggah koleksi lama, mengikuti lomba, hingga akhirnya memenangkan juara pertama dan kedua. Hadiahnya? Kamera prosumer Canon Power Shot G7X dan pengakuan secara global.

Salah satu karyanya bahkan menjadi best seller, dibeli ratusan kali oleh orang yang berbeda. “Uangnya tetap masuk ke saya dan seumur hidup,” jelasnya. 

Sistem lisensi ini membuatnya bisa terus berkarya tanpa khawatir kehilangan hak cipta.

Sayangnya, gempa Lombok 2018 dan pandemi COVID-19 sempat membuat semua perlengkapannya lenyap. Hanya tersisa sebuah gitar tua di balik reruntuhan rumahnya. Tapi, semangatnya tetap menyala. 

Dengan koleksi lama, ia tetap aktif mengunggah dan menjual foto di EyeEm. Salah satu keunggulannya, katanya, adalah keberanian menampilkan keindahan alam KLU secara natural, terutama siluet matahari terbenam yang menjadi ciri khasnya. 

“Foto itu harus orisinal,” tegas pria yang sempat berkecimpung dalam riset film telegram Putu Wijaya itu.

“Kalau ketahuan hasil hunting bareng, bisa digugurkan. Sama seperti kasus di Sony Award. Makanya saya selalu jaga keaslian dan ide,” sambungnya dengan ramah.

Foto-fotonya bahkan berhasil menembus kurasi fotografer dari National Geographic (NetGeo) dan diterbitkan di majalah EyeEm.

Hari ini, meski tak lagi sesibuk dulu sebagai jurnalis TV, Alam tetap berkarya. Meski tak lagi punya kamera, ia tetap berkarya dengan handphone dan kamera pinjamannya dari teman.  

“Fotografi itu bukan soal alat, tapi visi dan konsistensi,” ujarnya.

Beberapa lokasi favorit Alam untuk mengambil gambar adalah  Pantai Sire, Medana, Teluk Kombal, dan sekitarnya.

“Tapi kadang di Lombok Tengah, Lombok Timur juga,” pungkasnya.

Jika Anda tertarik melihat dan membeli karya Alam Kundam, Anda bisa menelusuri di link berikut: Check out the latest photos by Alam Kundam: https://www.eyeem.com/u/20912373  

< a title=" milad bima 2025" target="_blank">

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *