Lombokvibes.com, Lombok Tengah — Aik Bual, desa paling utara di Kecamatan Kopang, Lombok Tengah. Sering luput dari peta wisata arus utama. Padahal, desa ini menyimpan kekayaan lanskap dan budaya yang menakjubkan. Di sinilah berdiri tenang Embung Bual, kolam retensi yang menampung air jernih dari mata air Rinjani. Namun lebih dari sekadar bentang alam, desa ini juga menjadi tempat bertumbuhnya dua jiwa seni yang menyatu dalam cinta dan kanvas, Rose dan Dul Hayi, pasangan pelukis yang telah puluhan tahun setia berkarya dari balik jendela kayu rumah mereka.
Bertemu Lewat Warna, Bersatu dalam Karya

Ros lebih dulu meniti jalan seni rupa. Sejak 2003, ia sudah aktif mengikuti berbagai pameran seni di NTB. Karyanya dikenal halus, meditatif, dan simbolik, banyak menggambarkan relasi perempuan, air, dan ruang spiritual dalam alam. Ia menggunakan media cat akrilik dengan pendekatan warna-warna alam, seolah mewakili suara sunyi pegunungan dan cerita-cerita mistis desa.
Sementara itu, Dul Hayi baru mulai menampilkan karyanya ke publik pada 2011 melalui sebuah pameran di Taman Budaya NTB. Dari pertemuan di ruang pamer itulah, dua insan ini saling mengenal, saling tertarik oleh sikap dan kepekaan masing-masing terhadap seni. Setahun kemudian, mereka menikah dan membangun hidup bersama di Aik Bual.
“Lukisan itu seperti hidup, butuh kejujuran dan kesabaran. Dulu saya kira saya melukis untuk diri sendiri. Tapi sejak bertemu Ros, saya tahu bahwa seni bisa jadi jembatan cinta dan perjuangan,”ungkap Dul Hayi, yang kini banyak bereksperimen dengan teknik goresan tekstural dan objek-objek Rinjani dalam format semi-abstrak dan mural.
Pasangan ini saling mengisi dalam proses kreatif. Ada lukisan yang mereka kerjakan bersama, ada pula yang saling dikritisi dan dibenahi dengan cinta. Tak ada ruang ego dalam rumah seni mereka. Hanya ada warna, ketulusan, dan keyakinan bahwa karya yang lahir dari desa punya nilai yang tak kalah dengan panggung galeri kota.
Aktif Berkarya, Tetap Terasing

Meski tinggal jauh dari pusat-pusat seni, Ros dan Dul Hayi tetap aktif mengikuti berbagai pameran, baik kolektif maupun individu. Namun mereka juga menyadari bahwa akses dan dukungan terhadap perupa di pedesaan masih sangat terbatas.
“Kami sering harus pakai uang sendiri untuk transport dan bahan. Belum lagi kalau ingin ikut pameran di luar daerah. Kadang rasanya seniman seperti kami masih dianggap hobi, belum profesi yang perlu didukung penuh,”ujar Ros.
Harapan mereka kini sederhana namun fundamental: hadirnya Dinas Kebudayaan yang berdiri sendiri, bukan sekadar digabung dalam struktur pariwisata atau pendidikan. Mereka percaya, keberadaan institusi khusus akan memperkuat posisi seniman dalam pembangunan budaya daerah.
“Kami butuh dukungan bukan hanya moril, tapi materil juga. Apresiasi itu harus dibarengi dengan kebijakan. Kalau seni terus dibiarkan jalan sendiri, nanti yang hilang bukan cuma karya, tapi juga identitas budaya,”tambah Dul Hayi.
Menjaga Seni dari Pinggiran

Kisah Ros dan Dul Hayi adalah potret kecil dari wajah kesenian di Lombok, hidup di pinggiran, namun justru dari sana muncul kejujuran dan keteguhan dalam berkarya. Di tengah dominasi budaya populer dan industri pariwisata yang kian membesar, mereka memilih tetap menanam akar di Aik Bual. Dari balik jendela rumah panggung mereka, lukisan terus lahir. Bukan untuk pasar, tapi untuk memelihara jiwa.
Sebagai bentuk kecintaan mereka pada seni rupa. Mereka mendirikan sanggar lukis Awinggih. Sebagai ruang dan tempat untuk anak-anak dan siapa saya yang mau belajar seni lukis.
Aik Bual tak hanya rumah bagi embung dan sawah. Ia adalah panggung sunyi tempat dua pelukis menjaga warisan rasa dan imajinasi. Di sana, seni bukan untuk dipuja, tapi untuk dijalani. Dengan kesabaran, cinta, dan harapan bahwa suatu hari nanti, dunia akan lebih mendengar suara dari kaki gunung.

































