Lombokvibes.com, Lombok Utara — Nama De Galih Mulyadi sudah tak asing lagi di kalangan pecinta teater, khususnya di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Lewat naskah-naskah yang kuat dan bernas, ia menjelma sebagai penulis teater yang mampu menghadirkan wajah asli masyarakat kecil khususnya di Lombok Utara ke atas panggung, tanpa kehilangan kekuatan artistik dan daya gugah sosial.
Karyanya yang paling menonjol, “Bangkang”, menjadi titik balik penting setelah berhasil membawa Teater Bintang Lombok Utara meraih juara Festival Teater Pelajar se-NTB 2024.
Namun perjalanan kreatif pria yang akrab disapa Kak Mul itu tak berhenti di situ. Ia telah melahirkan sejumlah karya lain yang juga mencatat prestasi membanggakan, seperti “Suara-Suara”, “PAON INAQ GECIP”, “LANGKE”, hingga “BILAI”. Semua naskah ini menjadi representasi kuat dari suara-suara lokal yang selama ini kerap tenggelam dalam arus budaya populer.
Kekuatan utama karya De Galih terletak pada keberpihakannya pada masyarakat kecil, khususnya komunitas di wilayah pegunungan Lombok Utara. Ia menggali realitas sosial seperti kemiskinan struktural dan ketimpangan budaya, lalu membungkusnya dengan bahasa dan istilah lokal yang autentik. Bahkan, banyak judul dan dialog dalam naskahnya hanya bisa dipahami secara penuh oleh masyarakat “atas” — istilah yang merujuk pada warga pegunungan.
“Saya menulis dari realitas yang saya kenal. Dua tahun terakhir saya menulis naskah yang sangat ‘KLU’ (Kabupaten Lombok Utara), tapi ternyata bisa juga diapresiasi oleh publik dari luar,” ujar pria yang juga merupakan seorang guru di SMPN 4 Gangga itu saat diwawancarai beberapa waktu lalu.
Ucapannya itu membuktikan bahwa karya lokal pun punya daya jangkau luas ketika ditulis dengan kejujuran dan kekuatan narasi.
Bahkan, prestasi “BILAI” sebagai naskah terbaik dalam Rawayan Award DKJ 2022, serta pencapaiannya sebagai nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2023, menjadi tonggak penting dalam kariernya. Pencapaian itu membanggakan, apalagi berasal dari daerah yang belum begitu akrab dengan dunia teater secara luas.
Meski sebagian besar karyanya belum dibukukan, De Galih Mulyadi telah menyimpan koleksi pribadi dan berencana menerbitkannya secara lebih luas di masa depan. Baginya, menulis bukan hanya perkara estetika, tapi juga bentuk tanggung jawab sosial dan budaya.
“Ya alhamdulillah naskah yang saya tulis laris dipinjam oleh teman-teman teater lain, ada juga dari teater Bima,” sambung penulis cerita anak Tune Puteq Kokoq Daye itu.
Karier teater De Galih sendiri dimulai sejak 2006 saat bergabung dengan Teater Putih FKIP Universitas Mataram. Sejak itu, ia terus berjuang menghidupkan teater di tanah kelahirannya — sebuah perjuangan yang tidak mudah di tengah dominasi budaya digital dan minimnya apresiasi terhadap seni pertunjukan.
Namun dedikasi dan kecintaannya pada teater membuatnya tak pernah surut. Kini, De Galih telah menjadi lokomotif gerakan teater di Lombok Utara, sekaligus inspirasi bagi generasi muda untuk tidak hanya menonton, tapi juga menciptakan dan menyuarakan kisah mereka sendiri lewat panggung. Terbukti dengan gemilangnya Teater Bintang dari SMAN 1 Gangga dan tumbuhnya Sanggar Anak Gunung sebagai wadah anak muda belajar dan berekspresi. (*)


































