Menilik gerakan Literasi Dusun Lombok Utara, upaya sunyi menyemai budaya baca dari akar rumput

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Lombokvibes.com, Lombok Utara– Di tengah rendahnya minat baca dan keterbatasan akses buku di tingkat dusun, sebuah gerakan kecil tumbuh menjadi harapan yang besar. 

Adalah Literasi Dusun, sebuah komunitas literasi yang berdiri sejak 28 Agustus 2021, hadir sebagai ruang belajar gratis dan tempat berkreasi bagi anak-anak, remaja, hingga orang tua di Dusun Duria,  Desa Rempek, Kecamatan Gangga.

Komunitas ini dirintis oleh seorang pemuda bernama Nobi Abandi. Seorang guru honorer di SDIT Al-Hijrah, Rempek Darussalam.

Berawal dari keinginan sederhana untuk mengisi waktu libur saat kuliah sembari mengimplementasikan ilmu yang ia peroleh STKIP Hamzar saat itu, ia mulai mengadakan kegiatan belajar di lingkungan masyarakat sekitar.

Dari Berugak dan Rumah Warga, Semangat Membangun Tak Pernah Padam

Kegiatan Literasi Dusun pada awalnya berlangsung secara berpindah-pindah, memanfaatkan berugak atau halaman rumah warga. Dengan keterbatasan fasilitas, papan tulis menjadi media utama belajar. Bahkan saat belum memiliki buku bacaan anak, Nobi menyiasatinya dengan membuat cerita sendiri berbasis ilustrasi gambar, lalu membacakannya secara bergiliran kepada anak-anak.

Dari aktivitas sederhana itulah, Literasi Dusun perlahan berkembang. Kini, peminjaman buku dibuka setiap hari, sementara kegiatan belajar rutin dilaksanakan setiap Sabtu. 

“Komunitas ini menjadi ruang aman dan terbuka untuk belajar membaca, menulis, berhitung, hingga berkreasi,” ujar Nobi kepada lombokvibes, Sabtu (13/12/2025).

Diceritakan Nobi, tujuan utama Literasi Dusun tidak hanya meningkatkan minat baca dan budaya literasi, mempermudah akses terhadap buku bacaan, menyediakan ruang belajar gratis, namun juga  membentuk lingkungan pembelajaran yang kolaboratif. 

Selain itu, komunitas ini juga mendorong pengembangan kemampuan berpikir, diskusi, dan kerja sama antara masyarakat, sekolah, dan lembaga lain.

Saat ini, Literasi Dusun didampingi oleh lima relawan, meski hanya satu yang aktif secara konsisten dalam pendampingan harian. Keterbatasan waktu dan kesibukan menjadi tantangan utama para relawan. 

“Meski demikian, kegiatan tetap berjalan dengan jumlah peserta mencapai lebih dari 60 anak,” sambung pria 26 tahun itu.

Ada beberapa kegiatan di Literasi Dusun ini, seperti belajar baca-tulis dan numerasi, peminjaman buku, lapak dan pojok baca, bimbingan literasi, konsultasi belajar, membaca individu dan nyaring, literasi digital, kelas menggambar, membuat cerita dari ilustrasi, literasi budaya, taman hijau, hingga belajar sambil bermain.

Peserta pun berasal dari berbagai jenjang usia. Anak-anak mengikuti kegiatan belajar dasar, menggambar, mewarnai, dan membaca. Sementara, kalangan remaja difasilitasi melalui literasi budaya seperti latihan kesenian gendang beleq, membaca novel, serta literasi digital menggunakan aplikasi CapCut dan Canva. Sedangkan  bagi orang tua dan warga dewasa, tersedia kegiatan membaca bersama, konsultasi, dan peminjaman buku.

Secara fasilitas sendiri, Literasi Dusun masih sangat terbatas. Saat ini hanya memiliki satu unit rak buku dan rumah baca yang masih meminjam lokasi. Alat tulis dan perlengkapan belajar pun masih minim. 

“Buku bacaannya diperoleh dari relawan, penerbit, serta donasi masyarakat melalui media sosial,” jelasnya.

Mulai Ada Dukungan

Sejak berdirinya komunitas ini, tidak ada pihak yang meliriknya. Namun, dukungan dari pemerintah desa kemudian mulai dirasakan pada tahun 2025.

Selain itu, dukungan juga mulai ada dari Dinas Perpustakaan KLU, bantuan berupa pendampingan administratif seperti pembuatan Nomor Pokok Perpustakaan dan pengisian data.

Sementara dari Dinas Pendidikan, penggerak Literasi Dusun pernah masuk nominasi GTK Award 2025 sebagai pendidik inspiratif.

Masyarakat sekitar pun merespons positif keberadaan Literasi Dusun. Orang tua merasa terbantu karena anak-anak mereka memiliki ruang belajar yang aman dan produktif. Minat baca dan peminjaman buku pun menunjukkan peningkatan sejak komunitas ini aktif.

Meski demikian, tantangan masih besar. Keterbatasan dana, belum adanya ruang belajar permanen, kurangnya konsistensi relawan, serta minimnya kesadaran sebagian orang tua akan pentingnya membaca menjadi pekerjaan rumah yang terus dihadapi. 

“Pendanaan juga menjadi kendala utama untuk menggelar pelatihan, lomba, dan pengembangan kreativitas anak,” cerita Nobi.

Semangat Cita-Cita yang Tak Pernah Surut

Nobi menyebut, kedepannya, Literasi Dusun bercita-cita mengembangkan program berbasis inklusi, pelatihan menulis buku cerita anak, pelatihan membaca nyaring, literasi digital, serta pelatihan menulis cerpen. 

Ia pun berharap adanya dukungan berupa pendanaan, penyediaan ruang belajar permanen, perlengkapan belajar, LCD, alat peraga, dan tambahan buku bacaan, agar pendidikan dan pengembangan kreativitas anak-anak bisa lebih baik.

Bagi Nobi, literasi bukan hanya sekadar membaca buku, tetapi fondasi untuk membangun kualitas sumber daya manusia (SDM) di desa.

“Masa depan generasi muda ditentukan oleh kebiasaan belajar hari ini,” ujarnya dengan semangat.

Pesan itu pula yang terus disampaikan kepada anak-anak agar tidak mudah menyerah dan tetap semangat membaca, karena buku adalah jendela ilmu dan jendela dunia.

“Apapun kebaikan yang kita lakukan hari ini, pasti akan selalu membawa hikmah di masa depan,” pungkasnya.

< a title=" milad bima 2025" target="_blank">

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *