Lombokvibes.com, Lombok Utara- Di tengah arus modernisasi yang kerap menjauhkan generasi muda dari nilai disiplin dan ketekunan, seorang putri dari Dusun Lokoq Rangan justru tampil sebagai simbol keteguhan, kerja keras, dan bakti kepada orang tua. Namanya Nasya Salsabila Syarif.
Di atas matras taekwondo, ia dikenal sebagai penakluk lawan. Di luar arena, ia tumbuh sebagai sosok yang rendah hati, lembut, dan penuh hormat kepada keluarga.
Nasya merupakan putri sulung dari pasangan Syarifudin, mantan Wakil Bupati Lombok Utara periode 2015–2020, dan Ibu Nani Triana Cahyani. Sejak menekuni dunia taekwondo, namanya perlahan namun pasti mulai dikenal luas sebagai salah satu atlet muda potensial milik Kabupaten Lombok Utara (KLU). Prestasinya merentang dari level kabupaten, provinsi, hingga nasional.
Puncak sorotan publik terhadap Nasya terjadi pada tahun 2023, saat ia sukses meraih medali emas pada Open Turnamen Taekwondo Kapolresta Mataram Cup 1 NTB. Sejak itu, torehan medalinya terus bertambah dan mempertegas posisinya sebagai atlet taekwondo putri yang patut diperhitungkan.
Sejumlah piagam dan piala kini menghiasi perjalanan prestasinya. Di antaranya, pada tahun 2023 Nasya meraih medali emas dalam Kejuaraan Taekwondo Antar Pelajar se-NTB. Tahun 2024, ia kembali mengukir prestasi dengan medali emas pada Open Tournament Taekwondo Bupati Cup KLU, serta meraih medali perak pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Taekwondo. Konsistensinya berlanjut pada tahun 2025, saat ia sukses membawa pulang medali emas dalam Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) NTB. Prestasi-prestasi ini membuktikan ketangguhannya, baik di kategori Kyorugi (tanding) maupun disiplin taekwondo lainnya.
Meski bergelimang prestasi, Nasya tetap bersikap sederhana. Saat diminta mengomentari deretan medali yang diraihnya, ia menjawab dengan penuh ketulusan.
“Setiap kali saya berdiri di podium, yang pertama kali terlintas adalah wajah Bapak dan Ibu. Prestasi ini bukan karena hebatnya saya, tapi karena doa dan restu mereka yang tidak pernah putus,” ungkap Nasya.
Ketangguhan Nasya di atas matras juga diakui oleh rekan seperjuangannya, Faradila Sauban, atlet asal Lokok Sutrang yang juga meraih medali emas pada ajang Kapolresta Mataram Cup 2023.
“Nasya adalah sosok yang sangat asyik diajak kerja sama. Meskipun dia putri dari mantan Wakil Bupati, di tempat latihan dia tidak pernah menjaga jarak. Dia sangat rendah hati dan selalu memberi semangat kepada kami semua,” kenang Faradila.
Di balik tendangan-tendangan keras yang menjatuhkan lawan, Nasya dikenal sebagai pribadi yang lembut dan ramah. Ia juga dikenal sangat penurut kepada kedua orang tuanya. Kedisiplinannya bukan hanya terlihat di arena pertandingan, tetapi juga dalam keseharian.
Bapak Syarifudin mengungkapkan rasa syukurnya atas tumbuh kembang sang putri.
“Kami bangga, tapi yang paling membuat kami bersyukur bukan hanya soal medalinya, melainkan bagaimana olahraga ini membentuk karakter Nasya menjadi pribadi yang disiplin dan tetap rendah hati,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Nasya sangat pandai membagi waktu antara latihan, sekolah, dan kehidupan keluarga.
“Dia bangun sangat pagi untuk latihan fisik sebelum sekolah. Di rumah, dia tetap putri kami yang penurut. Kami hanya bisa memberikan dukungan dan doa terbaik agar ia terus konsisten di jalan yang positif ini,” ungkapnya.
Bersama sang istri, Ibu Nani Triana Cahyani, mereka menilai bahwa olahraga bukan sekadar soal prestasi, melainkan sarana pembentukan karakter dan mental anak. Taekwondo telah menempa Nasya menjadi pribadi yang kuat, disiplin, sekaligus berakhlak.
Kisah Nasya Salsabila Syarif menjadi pesan kuat bagi generasi muda di Kabupaten Lombok Utara. Bahwa prestasi setinggi apa pun tidak boleh memisahkan seseorang dari nilai bakti kepada orang tua. Ia membuktikan bahwa kekuatan sejati seorang atlet bela diri tidak hanya terletak pada kerasnya tendangan atau cepatnya tangkisan, tetapi juga pada keteguhan hati, rasa hormat, dan ketaatan kepada mereka yang telah membesarkannya.
Kini, dari Lokok Rangan, nama Nasya Salsabila Syarif terus bersinar. Ia bukan hanya membawa pulang medali, tetapi juga membawa harapan. Harapan bahwa masa depan olahraga di Lombok Utara akan diisi oleh generasi muda yang berprestasi, berkarakter, dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur keluarga dan budaya.



































