Lombokvibes.com, Mataram – Di tengah arus globalisasi seni pertunjukan yang kian deras, SAKSAK Dance Production tampil konsisten sebagai ruang kreatif yang setia merawat tradisi sekaligus berani menafsirkan ulang dalam bahasa zaman.
Berbasis di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, sanggar tari ini telah berdiri sejak 20 Mei 2001 dan hingga kini menjadi salah satu pilar penting pelestarian, pengembangan, sekaligus diplomasi budaya melalui seni tari.
Didirikan oleh koreografer dan seniman tari L. Surya Mulawarman, SAKSAK Dance Production tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlatih, tetapi berkembang menjadi rumah gagasan dan laboratorium kreatif. Selama lebih dari dua dekade perjalanan artistiknya, sanggar ini telah melahirkan 48 karya tari yang digarap melalui pendekatan eksploratif, dengan tradisi sebagai sumber utama penciptaan.
Setiap karya SAKSAK Dance Production lahir dari proses penggalian nilai-nilai budaya, yang kemudian diolah menjadi bahasa artistik baru agar tetap relevan dengan dinamika sosial dan perkembangan zaman. Pendekatan ini membuat karya-karya SAKSAK dikenal kuat secara konseptual sekaligus ekspresif.
Tema-tema yang diangkat pun beragam dan kontekstual, mulai dari isu perempuan, identitas budaya, relasi manusia dengan alam, hingga refleksi sosial masyarakat Nusantara, khususnya budaya Sasak dan wilayah Nusa Tenggara Barat. Melalui karya-karya tersebut, SAKSAK Dance Production tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga membaca realitas hari ini dan masa depan.
Dari panggung lokal hingga internasional, SAKSAK Dance Production telah tampil dalam berbagai festival budaya, seremoni kenegaraan, dan ajang seni dunia. Setiap penampilan menjadi medium untuk membawa spirit tradisi NTB ke ruang pergaulan global, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada audiens lintas bangsa.
Bagi L. Surya Mulawarman, seni tari bukan semata pertunjukan estetis, melainkan medium pendidikan, kesadaran budaya, dan dialog peradaban.
“Sejak kami berdiri pada 20 Mei 2001, SAKSAK Dance Production berkomitmen menjadikan tradisi sebagai landasan berpijak. Tradisi tidak untuk dibekukan, tetapi digali ruhnya dan diolah agar mampu berbicara dengan bahasa zamannya,” ujar Surya Mulawarman.
Ia menegaskan bahwa kebebasan berekspresi dalam berkarya harus selalu disertai tanggung jawab budaya.
“Ketika seniman jujur pada akar budayanya, karya itu akan memiliki identitas yang kuat dan mampu menembus batas ruang dan generasi,” tambahnya.
Sebagai bagian dari proses refleksi sekaligus penguatan kualitas artistik, SAKSAK Dance Production akan menggelar Pentas Evaluasi sebagai ruang pertanggungjawaban kreatif atas proses berkarya yang telah dijalani. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 30 Desember 2025, pukul 19.30 WITA, bertempat di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Pentas evaluasi ini menjadi momentum penting bagi sanggar untuk menampilkan capaian artistik sekaligus membuka ruang apresiasi dan dialog dengan publik, komunitas seniman, serta pemangku kepentingan kebudayaan di NTB. Melalui forum tersebut, SAKSAK Dance Production tidak hanya mempertontonkan karya, tetapi juga menegaskan komitmennya dalam menjaga kualitas, konsistensi, dan keberlanjutan proses kreatif seni tari.
Di bawah kepemimpinan L. Surya Mulawarman, SAKSAK Dance Production terus melangkah menjaga denyut tradisi sambil menorehkan jejak penting dalam peta seni pertunjukan Indonesia. Dari akar lokal di Nusa Tenggara Barat, sanggar ini membuktikan bahwa karya seni yang lahir dari kesadaran budaya mampu tumbuh, hidup, dan berbicara kepada dunia.

































