Empat ekor penyu di Gili terjangkit tumor, BKKPN ungkap sinyal kuat laut tercemar 

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Lombokvibes.com, Lombok Utara– Gili Matra (Meno, Air dan Trawangan) yang selama ini dikenal sebagai destinasi wisata kelas dunia ternyata tidak sedang baik-baik saja. 

Temuan terbaru dari Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang Wilayah Kerja (Wilker) Gili Matra mengungkap kondisi memprihatinkan, penyu-penyu di kawasan ini mulai terjangkit tumor akibat penyakit fibropapillomatosis, yang dipicu virus herpes dan mengindikasikan adanya pencemaran perairan.

Dalam survei biota dilindungi tahun 2025, yang dilakukan pada Agustus dan Oktober di 24 stasiun pengamatan, tim peneliti menggunakan dua metode, yakni roving dive technique dan pengambilan foto ID. Melalui foto wajah kiri dan kanan penyu yang kemudian diproses lewat aplikasi identifikasi, BKKPN Kupang kini memiliki 141 individu penyu yang sudah terdata sejak 2017.

Dari hasil pengamatan tersebut, satu individu penyu bernama Mini kembali ditemukan, penyu yang sama yang didata pada 2023. Namun kondisinya berubah. 

“Jika dua tahun lalu matanya terlihat sehat, kini di 2025 Mini ditemukan dengan tumor di mata,” ujar Hotmariyah, staff BKKPN Kupang, Jumat (21/11/2025).

Dia lebih jauh menjelaskan, hasil analisis menunjukkan penyakit fibropapillomatosis yang disebabkan oleh virus herpes (alpha herpes), yang ditularkan melalui mikro-lintah laut.

Penyakit ini menyerang penyu ketika imunitas tubuhnya menurun akibat stres atau kondisi lingkungan yang buruk. 

IMG_5850
Foto: Hotmariyah, BKKPN Kupang/dok.ist

Berdasarkan laporan masyarakat, ada empat penyu lain yang ditemukan mengalami tumor serupa pada 2024. Semuanya berasal dari satu lokasi: dive site Hans Rief, di utara Gili Air.

Menurutnya, lokasi Hans Rief menunjukkan indikasi kuat perairan tercemar. Mikro-lintah pembawa virus berkembang di area yang kualitas lingkungannya sudah menurun. 

“Namun sumber pencemar masih memerlukan kajian lanjutan. Ada dua dugaan sementara, limbah dari Pulau Gili Air atau dari daratan utama yang terbawa arus hingga ke Hans Rief,” jelasnya.

“Yang jelas, perairan Gili Matra tidak dalam kondisi ideal. Ini semakin diperkuat dengan temuan lain dari survei ekosistem karang di barat Gili Trawangan,” tegasnya.

Dia menyebutkan, invasi alga Halimeda ditemukan masif, tanda bahwa nutrien di perairan meningkat akibat pencemar. Jika tidak ditangani, zona inti kawasan konservasi terumbu karang bisa mengalami penurunan kualitas karena karang tertutup alga dan mati.

Kekhawatiran tidak berhenti di penyu. Hotmariyah menyebut, masih belum ada penelitian apakah virus ini bisa menjangkit biota laut lain, termasuk ikan, atau bahkan berdampak pada manusia, terlebih karena Hans Rief adalah salah satu spot selam favorit wisatawan.

“Dampak penyebaran virus ini dapat sangat cepat,” katanya.

Dia mencontohkan, di Hawaii, 92 persen populasi penyu diketahui terserang fibropapillomatosis. Jika tidak ada tindakan cepat, bukan mustahil Gili Matra mengalami hal serupa.

Pencemaran laut, ujarnya, terbanyak diakibatkan oleh limbah yang justru banyak berasal dari aktivitas di darat, termasuk jumlah kunjungan wisatawan dan sistem pembuangan limbah yang belum tertata.

BKKPN Kupang, disebutkan, mendorong  agar Pemda fokus pada pengendalian limbah, menata sistem pengolahan air limbah terpadu di tiga pulau, serta memperketat konsep ekowisata. 

“Wisatawan tidak harus banyak, tapi harus berkualitas dan memiliki tingkat belanja tinggi sehingga tetap memberikan PAD tanpa merusak daya dukung lingkungan,” tegasnya.

Selain isu penyakit, pihaknya juga menyoroti kondisi habitat penyu bertelur di Gili Meno yang mulai terdesak oleh pembangunan dan pencahayaan berlebih. Beberapa penyu bahkan terpaksa bertelur di area yang tidak ideal, seperti bawah panggung musik atau pelabuhan, karena kesulitan menemukan pantai yang aman.

Hotmariyah menegaskan, bahwa penanganan penyu hanya akan menjadi solusi sementara jika sumber pencemar laut tidak dibereskan. 

“Karena selama lingkungan tercemar, mikro-lintah pembawa virus akan tetap ada dan menginfeksi penyu lain yang melintas,” tegasnya.

Pesannya Hotmariyah sangat tegas bahwa Gili tidak sedang baik-baik saja. 

“Dan ini harus menjadi alarm bagi semua pihak, pemerintah, pengelola wisata, pelaku usaha, hingga wisatawan, untuk kembali menata Gili Matra agar tetap menjadi kawasan konservasi sekaligus destinasi wisata yang berkelanjutan,” pungkasnya.

< a title=" milad bima 2025" target="_blank">

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *