Lombokvibes.com, Lombok Utara – Jika melihat permukaan, laut Gili Trawangan masih kelihatan jernih, biru toska, dan fotogenik.
Namun, hasil penelitian lapangan yang dilakukan tim dari Leibniz Center for Tropical Marine Research (ZMT) Jerman bersama para peneliti muda lokal justru mengungkap alarm bahaya, air Gili ternyata sudah tercemar dan melewati ambang batas aman.
Asisten lapangan peneliti, Matlaah, menjelaskan, tim mengambil sampel di beberapa titik laut dan sumur warga. Yang mengejutkan, bakteri E. Coli sudah ditemukan pada kedalaman dangkal—tepat di area yang setiap hari dipakai buat snorkeling, berenang, dan main air.
“Airnya memang bening, tapi kualitasnya nggak sejernih itu. Kadar E. coli sudah tinggi,” kata Matlaah, saat ditemui pada acara Diseminasi Biota Dilindungi di Gili Matra (21/11/2025).
Masalah makin jelas terlihat di area dekat keramaian dan pelabuhan. Di sana, tumbuhan alga Halimeda tumbuh besar-besar dan numpuk.
“Halimeda ini tumbuhan yang biasanya meledak populasinya saat perairan kebanyakan nutrisi limbah, mulai dari deterjen, sabun, sampai buangan domestik lainnya,” jelas dia.
“Kalau Halimeda segede-gede gitu, tandanya nutrien limbahnya masuk banyak,” sambungnya.

Tidak hanya di laut, air sumur warga juga kena imbas. Sampel sumur yang diuji menunjukkan kualitas yang sudah tidak layak konsumsi.
“Buat mandi masih oke. Tapi untuk diminum bahaya banget. Bisa bikin sakit perut dan infeksi kulit,” tambahnya.
Matlaah juga menyinggung soal laporan munculnya tumor Fibropapillomatosis pada penyu yang pernah ditemukan oleh BKKPN Kupang. Walaupun penyebabnya kompleks, kualitas air yang buruk bisa jadi salah satu pemicunya.
“Air limbah itu efeknya panjang. Dari manusia sampai ke penyu, semua bisa kena,” ujarnya.
Menurutnya, akar masalah ada di pengelolaan limbah Gili. Banyak bangunan masih pakai septic tank terbuka. Kalau penuh, bukannya diolah, tapi malah bikin septic tank baru.
“Gili butuh septic tank komunal. Harus ada pengolahan limbah terpadu. Soalnya apa pun yang bocor dan lari ke laut, balik lagi ke kita,” katanya.
Penelitian ini dilakukan lewat pengambilan sampel, wawancara dengan warga dan pelaku usaha, hingga survei besar. Hasil lengkapnya nantinya akan dipublikasikan untuk jadi bahan rujukan pengelolaan lingkungan di Gili.
”Nanti kami akan publikasikan, supaya nanti bisa jadi rujukan untuk pengelolaan dan perbaikan,” jelasnya.
Dia menegaskan, jika pencemaran tidak ditangani dari sekarang, dampaknya bakal balik ke warga, wisatawan, dan masa depan wisata Gili sendiri.

































