Lombokvibes.com, Lombok Utara— Diskusi buku naskah drama Bilai karya De Galih Mulyadi yang digelar Komunitas Sanggar Anak Gunung (S.A.G.), Jumat (24/10/2025) di Tanjung, Lombok Utara, berlangsung seru.
Di balik judulnya yang pendek, “Bilai, naskah yang menerima penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini menyimpan gugatan sosial yang tajam terhadap kemiskinan struktural, ketimpangan agraria, dan ketidakadilan yang membelit masyarakat pegunungan Lombok Utara.
Kegiatan yang menghadirkan penulis De Galih Mulyadi sebagai narasumber dan sastrawan Imam Safwan sebagai pembedah ini diikuti puluhan guru, pelajar, sastrawan, dan pegiat komunitas literasi.
Moderator Saskia Septina membuka forum dengan pertanyaan sederhana namun menggugah: apa makna sejati di balik kata “bilai”?
De Galih menjelaskan, “bilai” adalah istilah lokal yang menggambarkan kemiskinan paling parah — bukan sekadar soal kekurangan materi, tetapi kemiskinan sosial dan kultural yang diwariskan dari generasi ke generasi. “Saya menulis ‘Bilai’ sebagai refleksi dan kritik terhadap realitas masyarakat sekitar yang terjebak dalam keterbatasan dan kehilangan daya tawar menghadapi perubahan zaman,” ujar De Galih.
Ia menuturkan, naskah tersebut lahir dari pengalaman pribadi dan ingatan kolektif masyarakat pegunungan Gawah Daya, yang sering menjual lahan mereka karena desakan ekonomi. “Bilai adalah suara mereka — para pembuka lahan, para pemunik — yang bekerja keras tapi selalu jadi korban dari sistem sosial yang tidak adil,” tambahnya.
Dalam proses kreatifnya, De Galih menggunakan bahasa Sasak lama yang menurutnya muncul secara alami dari ingatan masa kecil. Ia menolak anggapan bahwa penggunaan bahasa lokal adalah romantisasi. “Bahasa itu hidup di saya. Itu bahasa ibu yang menyimpan ingatan dan luka,” katanya.
Pembedah Imam Safwan menilai Bilai sebagai karya yang “berbisik tapi tajam.” Ia menyebut naskah ini berhasil menampilkan realitas sosial Lombok Utara tanpa kehilangan kekuatan estetik. “Bilai tidak menghakimi, tapi menyadarkan. Ia mengajak pembaca menatap cermin sosial yang kadang kita hindari,” ujar Imam.
Menurutnya, naskah ini memotret bentuk kapitalisme agraria yang membuat masyarakat lokal tersingkir perlahan dari tanah mereka sendiri. “Kita melihat bagaimana tanah dikuasai oleh pihak luar, sementara masyarakat asli kehilangan pijakan. Ini semacam kolonialisme halus yang masih berlangsung hingga kini,” jelasnya.
Ia juga menyoroti bagaimana simbolisme dalam Bilai memperkuat pesan sosialnya. Tokoh Kepak, misalnya, menggambarkan kebaikan yang tak berdaya di tengah sistem korup, sementara Inaq Kertinep melambangkan perempuan tabah yang pasrah terhadap takdir sosial. “Semua tokoh di sini adalah alegori penderitaan rakyat kecil,” ujar Imam.
Diskusi semakin hidup ketika peserta menyoroti dampak sosial naskah ini. Beberapa peserta menilai Bilai bukan hanya karya sastra, tetapi juga cermin perlawanan kultural. Menanggapi hal itu, De Galih menegaskan bahwa kemiskinan yang digambarkan dalam karyanya bukan hanya akibat struktur luar, tapi juga lahir dari kelemahan internal masyarakat sendiri , rendahnya kesadaran dan semangat kolektif.
Imam menutup bedahannya dengan menyebut bahwa karya seperti Bilai penting dibaca di tengah derasnya arus modernisasi. “Karya ini mengingatkan kita bahwa sastra lokal bukan nostalgia, tapi alat kritik sosial yang hidup,” katanya.
Menutup diskusi, De Galih menyampaikan rasa terima kasih kepada semua peserta. Ia berharap karya lokal seperti Bilai terus dibaca, didiskusikan, dan menjadi bagian dari kesadaran budaya Lombok Utara. “Bilai bukan sekadar naskah. Ia adalah doa agar masyarakat tidak terus hidup dalam lingkar kemiskinan dan lupa pada nilai kemanusiaannya,” tutupnya.



































