Ledakkan energi kreatif, Sanggar Anak Gunung hadirkan Festival Sastra Lombok Utara 2025

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Lombokvibes.com, Lombok Utara— Siap-siap! Gumi Tioq Tata Tunaq akan menjadi pusat energi kreatif akhir Oktober 2025 ini. 

Sanggar Anak Gunung (SAG), menghadirkan Festival Sastra Lombok Utara 2025 (Festalora)–perayaan kata, imajinasi, dan kebudayaan yang mengusung semangat “DAYA DAYA!”, sebuah seruan untuk terus berkarya, berdaya, dan menyalakan bara sastra dari Tanah Sasak untuk Nusantara.

Selama tiga hari, yakni Hari Kamis 23 Oktober 2025 hingga Hari Sabtu tanggal 25 Oktober 2025, Lombok Utara akan disulap menjadi ruang hidup bagi penulis, pembaca, seniman, dan siapa pun yang mencintai kata. 

Mulai dari lomba puisi dan cerpen pelajar, diskusi buku dan seminar sastra, hingga workshop menulis, parade puisi, dan pertunjukan kolaboratif lintas seni, semua berpadu dalam suasana penuh inspirasi dalam Festalora 2025 ini.

Ketua Panitia Festalora, Saripudin, mengatakan, festival ini lahir dari kegelisahan dan cinta yang sama, bahwa Lombok Utara punya potensi besar dalam sastra, namun, belum punya panggung yang cukup.

“Selama ini Lombok Utara menyimpan banyak kisah, tradisi lisan, dan penulis-penulis berbakat. Tapi belum banyak ruang untuk mereka tampil dan berbagi. Festalora hadir untuk itu, membuka ruang baru, mempertemukan ide, dan menempatkan Lombok Utara di peta sastra Indonesia,” ujarnya, kemarin (20/10/2025).

Dikatakannya, bukan tanpa alasan festival ini mengusung slogan “DAYA DAYA!”. Kata “daya” diambil dari semangat masyarakat Sasak: kuat, hidup, dan tidak menyerah. Festalora ingin menjadi wadah yang menyalakan daya cipta, terutama bagi generasi muda yang ingin bersuara lewat sastra.

Rangkaian acaranya pun dirancang untuk dekat dengan publik. Hari pertama (23/10/2025) acara akan dibuka dengan seminar sastra bertema “Daya Besar, Kota Kecil” dengan narasumber Kiki Sulistyo. Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi buku puisi “Topeng Labuapi” di Bale Jukung dengan narasumber Lamuh Syamsuar. Acara juga dilengkapi dengan musikalisasi puisi dan pentas Sastra pada malam harinya.

Kemudian, pada hari kedua (24/10/2025) acara akan diisi oleh workshop penulisan puisi oleh Kiki Sulistyo, yang kemudian dilanjutkan dengan  diskusi buku “Bilai” karya De Galih Mulyadi. Acara juga dilengkapi dengan dramatic reading dari naskah “Bilai” dari eks Teater Bintang dan music performance dari Jojuke & Giang F.A.

Sementara, pada hari terakhir ditutup dengan workshop penulisan Cerpen yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi “Sastra di Lombok Utara: Suatu Kemungkinan” dengan narasumber Ilda Karwayu.

Pada malam harinya, kegiatan Festalora akan ditutup dengan acara penutupan dari Wakil Bupati KLU Kusmalahadi Syamsuri, pidato kebudayaan, pengumuman pemenang lomba, pembacaan puisi pemenang lomba, pentas drama, dan music performance dari Bale Etnic Fusion & Sangga Boemi.

Saripudin lebih jauh menjelaskan, Festalora ini bukan sekadar agenda seni, ia adalah gerakan kebudayaan. Sebuah ruang yang menghubungkan penulis dan pembacanya, tradisi dan modernitas, suara lokal dan wacana nasional.

“Ini bukan festival yang datang dan pergi. Kami ingin membangun kebiasaan, menulis, membaca, dan berdialog tentang kehidupan lewat sastra,” pungkasnya. 

< a title=" milad bima 2025" target="_blank">

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *