Lombokvibes.com, Lombok Utara — Kondisi Pasar Tanjung kembali menuai sorotan tajam. Setiap musim hujan tiba, pasar Tanjung selalu dilanda banjir, becek, berlumpur, bau menyengat, serta dipenuhi sampah. Situasi ini dinilai tidak hanya merugikan pedagang dan pengunjung, tetapi juga mencoreng wajah ibu kota Kabupaten Lombok Utara.
Anggota DPRD KLU Artadi S.Sos, menegaskan bahwa persoalan Pasar Tanjung sudah masuk kategori darurat lingkungan dan perlu penanganan serius dari Pemerintah Daerah.
“Menanggapi banyaknya aspirasi masyarakat, terutama para pedagang di Pasar Tanjung, kami memandang sangat penting Pemda mempertimbangkan pembangunan baru atau relokasi pasar. Karena setiap tahun, setiap musim hujan, kondisi pasar ini selalu memprihatinkan: banjir, becek, berlumpur, bau, dan sampahnya sangat banyak,” ujar Artadi Rabu (14/1/2026).
Menurut politisi Gerindra itu, kondisi tersebut membuat minat masyarakat untuk berbelanja ke Pasar Tanjung semakin menurun.
“Pengunjung jadi malas ke pasar. Setiap musim hujan pasar ini sudah tidak sehat lagi. Lingkungannya kotor, bau, dan tidak layak,” tegasnya.
Artadi menjelaskan, salah satu penyebab utama banjir adalah posisi Pasar Tanjung yang kini lebih rendah dari jalan utama. Akibatnya, setiap kali hujan, air dari jalan langsung mengalir masuk ke area pasar.
“Sekarang lokasi Pasar Tanjung sudah lebih rendah dari jalan raya. Semua air dari jalan masuk ke pasar. Saluran juga sudah tidak maksimal fungsinya. Air yang seharusnya masuk ke drainase justru meluap ke lokasi pasar,” jelasnya.
Ia menilai, sudah saatnya Pemda mengambil keputusan besar: apakah Pasar Tanjung direlokasi, dipindahkan, atau dibangun ulang dengan posisi yang lebih tinggi dari permukaan jalan.
“Oleh karena itu kami minta Pemda dan dinas terkait benar-benar mempertimbangkan apakah Pasar Tanjung ini direlokasi, dipindah, atau dibangun ulang supaya posisinya lebih tinggi dari jalan raya,” kata anggota dewan yang juga merupakan Ketua PBVSI KLU itu.
Selain faktor kesehatan dan kenyamanan, Artadi juga menyoroti citra daerah. Pasar Tanjung berada tepat di pinggir jalan utama sekaligus jalan provinsi, sehingga kondisinya sangat mudah terlihat oleh masyarakat luas.
“Apalagi Pasar Tanjung ini berada di jalan utama, jalan provinsi. Kalau banjir, becek, berlumpur, dan bau, tentu sangat kelihatan jorok. Itu mencoreng wajah daerah kita,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menyebutkan bahwa di sekitar pasar terdapat sejumlah kantor pemerintahan dan bahkan ada wacana pembangunan Bank BPR NTB di bagian depan pasar. Menurutnya, keberadaan pasar yang kumuh akan sangat bertolak belakang dengan pembangunan kawasan tersebut.
“Di depannya ada beberapa kantor dan ada wacana mau dibangun Bank BPR NTB. Maka pasar itu harus bersih dan tidak lagi kebanjiran,” tegas Artadi.
Keluhan tidak hanya datang dari pedagang dan pembeli, tetapi juga dari para buruh pasar dan tukang ojek. Kondisi jalan yang becek dan berlumpur memaksa mereka menggunakan sepatu khusus seperti sepatu boot.
“Keluhan dari buruh dan pengojek juga banyak sekali. Sampai mereka pakai sepatu boot karena jalannya becek, berlumpur, dan baunya menyengat,” katanya.
Masalah sampah pun menjadi perhatian serius. Artadi menyebut bahwa sampah dari Pasar Tanjung merupakan salah satu penyumbang terbesar timbunan sampah di wilayah tersebut.
“Justru sampah dari pasar ini yang paling banyak. Ini harus menjadi perhatian Pemda,” ungkapnya.
Terkait opsi relokasi, Artadi menilai tidak ada alasan untuk tidak dilakukan karena Pemda memiliki cukup lahan di wilayah Tanjung.
“Kalau relokasi ke mana, tanah Pemda di Tanjung ini banyak. Itu bisa jadi alternatif. Atau Pasar Tanjung bisa dipindah ke sebelah timurnya, kebetulan lokasinya lebih tinggi dan lebih bagus,” ujarnya.
Ia juga mempertanyakan kinerja dinas terkait dalam menangani persoalan pasar dan sampah.
“Ini yang selalu kita tanyakan ke dinas terkait. Apa masalahnya? Apakah karena anggarannya kurang, fasilitasnya kurang, atau SDM-nya yang belum siap?” katanya lugas.
Artadi menyoroti kondisi armada pengangkut sampah yang sudah tidak layak pakai.
“Saya lihat sendiri mobil dump sampah ada yang rusak, bahkan baknya sampai ditempel pakai seng plat. Itu tandanya usia kendaraan sudah tua dan memang harus dipikirkan penggantiannya,” ujarnya.
Selain armada, ia juga meminta agar jumlah kontainer sampah ditambah dan disebar di dusun-dusun serta desa-desa.
“Kontainer juga harus disiapkan banyak supaya bisa ditempatkan di beberapa dusun atau desa,” katanya.
Artadi mengingatkan bahwa pemerintah tidak bisa sepenuhnya menyalahkan masyarakat atas kebiasaan membuang sampah sembarangan.
“Kita juga tidak bisa langsung menyalahkan masyarakat, karena mereka bingung mau buang sampah ke mana kalau fasilitasnya tidak ada,” tegasnya.
Ia mendesak Dinas Lingkungan Hidup untuk terbuka menyampaikan kondisi riil di lapangan kepada pimpinan daerah.
“Kami minta dinas terkait, terutama Dinas LH, menyampaikan kondisi sebenarnya kepada Ketua TAPD, bahkan kepada Bupati. Jangan malu menyampaikan kekurangan, baik soal anggaran, fasilitas, maupun SDM,” ujarnya.
Artadi juga meminta agar DPRD dilibatkan secara penuh agar persoalan ini bisa menjadi bahan pertimbangan dalam pembahasan anggaran.
“Sampaikan juga ke DPRD supaya kami tahu kondisi sebenarnya. Ini bisa jadi bahan Banggar DPRD untuk mempertimbangkan pengadaan fasilitas dan armada yang dibutuhkan oleh Dinas LH,” pungkasnya.
Dengan kondisi Pasar Tanjung yang terus berulang menjadi langganan banjir, becek, bau, dan penuh sampah setiap tahun, DPRD KLU menilai sudah saatnya Pemda mengambil langkah strategis dan berani.
“Relokasi atau pembangunan ulang pasar bukan cuma sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak demi kesehatan lingkungan, kenyamanan masyarakat, serta menjaga citra Kabupaten Lombok Utara sebagai daerah yang tertib, bersih, dan layak dikunjungi,” tegasnya.




























