Tak cukup hanya festival, Ilda Karwayu dorong ekosistem utuh sastra tumbuh di Lombok Utara 

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Lombokvibes.com, Lombok Utara— Ilda Karwayu, penulis buku “Binatang Kesepian dalam Tubuhmu (2020)” menghidupkan suasana diskusi “Sastra di Lombok Utara: Suatu Kemungkinan” menjadi penuh semangat. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan ke audiens membuat suasana diskusi sastra yang merupakan rangkaian acara Festival Sastra Lombok Utara (Festalora) 2025 itu menjadi seru dan menarik. 

Ilda memulai pertanyaan demi pertanyaan kepada audiens mengenai Sastra di Lombok Utara. Alih-alih memberikan dikte kuliah, penulis perempuan yang mendapatkan sejumlah penghargaan ini memberikan peserta diskusi ruang yang luas untuk berpikir, bersuara, dan merefleksi.

Diskusi yang berlangsung hampir tiga jam di Bale Jukung (25/10/2025) itu dimoderatori oleh Dedi Apyandi, pegiat literasi di Lombok Utara.

Mulanya, Dedi melontarkan pertanyaan sederhana namun tajam sebagai pemantik diskusi, bagaimana sebenarnya potensi sastra di Lombok Utara?

Ilda Karwayu kemudian menegaskan, bahwa perkembangan sastra sangat dipengaruhi oleh kondisi geografis dan akses terhadap sumber belajar. 

Menurutnya, daerah dengan mobilitas pengetahuan tinggi biasanya lebih cepat tumbuh secara kultural dan literer.

Ia menyinggung beberapa nama yang telah menandai peta sastra Lombok Utara seperti Imam Safwan, Yusran Hadi, dan Eni Sukreni, para penulis yang menimba ilmu di luar daerah lalu kembali dan menulis dari akar lokal. 

“Karya seperti Bugiali dan Iblis Tanah Suci karya Arianto menunjukkan bahwa Lombok Utara punya suara dan realitas sendiri,” ujar Ilda.

Namun, bagi Ilda, keberlangsungan sastra tidak bergantung pada penulis semata. Ia memaparkan empat unsur penting dalam ekosistem sastra: penulis, pembaca, pengedar atau penerbit, dan kritikus. 

“Sastra hidup kalau keempatnya saling menghidupi,” tegasnya.

Diskusi mengalir hangat. Adi, salah satu peserta, menyoroti karya Sireh Buani yang menghidupkan kenangan masa kecil Lombok Utara. Sementara moderator menyinggung soal karya sastra yang dianggap “berat” oleh pembaca muda. 

Ilda menanggapinya dengan lugas. “Karya sastra tidak perlu disederhanakan. Justru pembaca yang harus meng-upgrade bacaan. Sastra yang baik punya banyak lapisan tafsir, itu yang membuatnya hidup,” tegasnya.

Isu relevansi antara sastra dan pendidikan juga tak luput dibahas. Ilda menjelaskan, membaca sastra secara kritis membantu membentuk cara berpikir yang logis dan reflektif. “Sastra mengajari berpikir beres. Itu berguna bahkan dalam matematika,” ujarnya, disambut tawa kecil peserta.

Arah pengembangan sastra di Lombok Utara pun dibahas serius. Ilda menilai, sastra harus dikelola dari “rumahnya sendiri”, yakni dari komunitas lokal, sekolah, hingga ruang keluarga. Ia menekankan pentingnya workshop penulisan, penerbitan lokal, dan pembentukan pembaca kritis di daerah.

Dalam sesi diskusi terbuka, Mashar mengingatkan sejarah panjang sastra Lombok Utara yang berakar dari tradisi takepan. Ia menyoroti tantangan era digital yang membuat minat baca menurun. Aji Zarkasi menambahkan bahwa karya sastra lokal perlu memperkuat konflik dramatik agar lebih menarik bagi publik.

Menjawab itu, Ilda menyebut setiap penulis memiliki nada dan gaya tersendiri. “Kalau pembaca ingin konflik yang lebih kuat, carilah penulis dengan kecenderungan itu. Dunia sastra itu luas,” katanya.

Mashudah, peserta lainnya, menekankan pentingnya mengenalkan sastra sejak dini, bahkan di tingkat PAUD. Ilda mengiyakan, dan menyarankan kolaborasi sekolah dengan Balai Bahasa NTB dan Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang sudah aktif menerbitkan buku anak.

Sementara Dinda mengusulkan dibentuknya kelas sastra yang menyenangkan bagi anak dan remaja, Rizki menyoroti naskah Sambel Colet yang merekam realitas sosial dan nepotisme di masyarakat kecil, mengingatkan semua bahwa sastra juga cermin sosial.

Menutup diskusi, Ilda menyampaikan tiga hal penting: pertama, ekosistem sastra harus terus dihidupkan dan tidak berhenti di festival. Kedua, penulis harus diberi ruang berekspresi, sementara penerbit dan pembaca kritis perlu tumbuh bersama. Ketiga, forum seperti Festalora bisa menjadi wahana penting untuk memastikan keberlanjutan itu.

< a title=" milad bima 2025" target="_blank">

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *