Lombokvibes.com, Lombok Barat — Di bawah rindang pohon kopi dan aroma dupa yang mengepul dari halaman Sanggar Seni Jati Suware, suasana begawai (pesta) pernikahan putri dari Dalang Sukardi terasa hangat dan sakral. Namun yang paling menyita perhatian bukan hanya lantunan gamelan atau busana pengantin, melainkan aktivitas di dapur—tempat para Eran menyalakan api tradisi.
Eran, dalam adat Sasak, bukan sekadar juru masak. Mereka adalah penjaga marwah, penyambung silaturahmi, serta simbol kehormatan keluarga yang menggelar hajatan. Di setiap begawe, peran mereka lebih dari teknis; mereka adalah arsitek rasa yang menjaga citra dan nama baik tuan rumah di mata para tamu.
“Eran kampung itu polos, jujur, tertib. Mereka pantang mencicipi masakan sebelum dihidangkan, karena bagi mereka rasa pertama harus dinikmati oleh tamu. Tugas mereka memastikan seluruh tamu kenyang, puas, dan dihormati sebagaimana mestinya,” ungkap Lalu Sajim Sastrawan, Pengerakse Agung Majlis Adat Sasak sekaligus budayawan yang hadir dalam acara tersebut.
Lalu Sajim menyebut peran para Eran seperti orkestra yang memainkan harmoni rasa di dapur. Mereka menyatukan beragam bumbu, sayur, daging, dan beras dengan ketelitian dan pengalaman yang tak bisa digantikan resep semata. Takaran harus pas, jumlah bahan diperhitungkan dengan cermat, bukan hanya untuk menjamu ratusan tamu, tetapi juga demi memastikan setiap keluarga bisa membawa pulang “berkat” sebagai lambang berkah.
Begawai kali ini menjadi istimewa karena dua Eran ternama dipercaya memegang kendali dapur: Satunah dari Dusun Ndut, Lingsar, dan Amaq Suki dari Dusun Pembuwun, Buwun Sejati, Narmada. Kolaborasi semacam ini jarang terjadi, terlebih antara dua figur besar di dunia dapur adat. Namun demi menghormati Dalang Sukardi, keduanya sepakat berbagi tugas dengan jelas dan tegas.
“Kami sudah bagi tugas sejak awal. Siapa pegang masakan utama, siapa urus lauk, semua jelas. Kalau hitung bahan harus tepat. Salah takaran bisa malu tuan rumah,” kata Amaq Suki sambil mengaduk gentong besar berisi kaldu ayam rarang yang menguarkan aroma menggoda.
Meski berstatus Eran, mereka tidak bekerja sendiri. Warga kampung turut ambil bagian. Para ibu memotong, mengulek, mengaduk, dan mengadon. Para pemuda membantu mengangkat kayu bakar dan mengatur aliran air. Namun, kendali tetap berada di tangan Eran yang menjaga agar semua berjalan sesuai adat—tepat waktu, tepat rasa, dan sesuai tata cara penyajian.
Di bawah tetaring beratap anyaman daun kelapa, suara gemericik cucian beras berpadu denting sendok kayu di wajan-wajan besar.
Suasana itu menjadi panggung tempat tradisi Sasak berbicara dalam kesunyian dapur. Pesta adat bukan hanya soal pelaminan mewah atau pakaian pengantin, tetapi juga soal kesempurnaan rasa di setiap piring yang dihidangkan kepada tamu.
“Ini bukan soal masak saja. Eran adalah penjaga kehormatan adat. Mereka memastikan begawe ini berjalan sempurna, dari dapur sampai pelaminan. Di tangan mereka, adat Sasak tetap hidup,” tegas Lalu Sajim.
Melalui tangan para Eran, budaya Sasak tidak hanya dipertahankan, tetapi juga diwariskan dari generasi ke generasi. Di balik aroma tumisan dan rebusan, sesungguhnya sedang berlangsung perayaan rasa, kehormatan, dan marwah yang tak pernah lapuk dimakan waktu.




























