Lombokvibes.com, Lombok Utara – Suara kayu gedogan berpadu tawa perempuan lintas generasi di Desa Bayan, Lombok Utara. Dari anak kecil hingga nenek berusia 90 tahun, semua larut dalam aktivitas yang sama: menenun.
Di desa adat yang dikenal sebagai pusat budaya Sasak-Bayan ini, tenun bukan sekadar kain, melainkan identitas dan doa yang dijaga turun-temurun.
Sabtu (20/9/2025) sentra tenun itu kedatangan Kapolres Lombok Utara AKBP Agus Purwanta, S.I.K., dan Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara Ny. Heny Agus Purwanta. Kehadiran mereka dalam program Gowes Kamtibmas bukan hanya soal olahraga dan silaturahmi, tapi juga bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya lokal.
“Belajar menenun di Bayan luar biasa. Bahkan ada nenek 90 tahun masih produktif berkarya. Tenun Bayan harus tetap diminati sampai 100 bahkan 1000 tahun mendatang,” kata Ny. Heny.
Selain menyemangati para penenun, Bhayangkari juga menyisipkan pesan literasi dan pemberdayaan perempuan.
Sebuah buku karyanya ia serahkan ke Kepala Desa Bayan, sebagai simbol pentingnya membangun sumber daya manusia setara dengan menjaga warisan leluhur.
Kapolres Agus menambahkan, kehadiran Polri di ruang budaya masyarakat adalah cara membangun kedekatan yang tulus.
“Kami bersyukur berada di wilayah yang menjunjung adat. Dari sinilah lahir rasa saling percaya,” ujarnya.
Kunjungan ini juga diwarnai dengan penyerahan bantuan sosial dan layanan kesehatan gratis. Namun bagi masyarakat Bayan, sorotan utamanya tetap pada tenun, sebuah tradisi yang terus berdenyut, menjadi pengikat antara masa lalu dan masa depan.








































