Tokoh adat dan budaya NTB bersatu lawan krisis moral, tolak kawin anak hingga goyang erotis

Property of Lombokvibes media.
Property of Lombokvibes media.

Lombokvibes.com, Mataram – Derasnya arus perubahan sosial di Nusa Tenggara Barat (NTB) memantik keprihatinan mendalam para tokoh adat, budayawan, akademisi, dan aktivis. 

Dalam sebuah dialog budaya yang digelar di Universitas Mataram, Senin (2/6/2025), mereka bersatu menyuarakan perlawanan terhadap praktik yang dianggap merusak moral generasi muda, seperti pernikahan usia dini, tarian erotis, kekerasan seksual, hingga penyimpangan identitas sosial.

Dialog bertema “Identifikasi dan Intervensi Trending Topic di Masyarakat NTB” ini menjadi panggung pernyataan tegas dari berbagai pihak yang selama ini menjadi penjaga nilai budaya dan agama di Bumi Gora. 

Salah satu suara utama datang dari DR. H. Lalu Sajim Sastrawan, Pengerakse Agung Majelis Adat Sasak (MAS), yang menyoroti viralnya tarian erotis oleh kru kecimol dan maraknya kekerasan seksual di lingkungan kampus serta pesantren.

Menurutnya, fenomena ini bukan hanya mencederai norma agama, tetapi juga merusak jati diri budaya Sasak. Ia menegaskan pentingnya edukasi tentang bahaya pernikahan dini dan penguatan peran keluarga serta lembaga pendidikan.

“Kita punya dasar hukum yang jelas, baik Undang-Undang Perkawinan maupun Perda Perlindungan Anak NTB. Tak ada ruang toleransi untuk praktik kawin anak. Anak perempuan yang mengalami menstruasi belum tentu siap menikah secara mental maupun sosial,” tegasnya saat dihubungi pada Selasa (3/6/2025).

MAS berkomitmen menggandeng berbagai pihak seperti Dewan Pendidikan Anak, forum pesantren, kampus, hingga Komisi V DPRD NTB untuk menyusun langkah konkret dalam menghadapi krisis sosial yang kian mengemuka.

Dalam forum yang sama, tokoh budaya Lalu Abdurahim, atau dikenal sebagai Mamiq Jagat, menyebut dialog tersebut sebagai titik balik penting. Ia mengapresiasi kehadiran tokoh besar seperti Lalu Sajim dan Tuan Guru DR. H. Azmi Hamzar (Ketua KSBN NTB) sebagai bukti keseriusan dalam membendung kemerosotan moral.

ecdd1dda-7735-411e-b5d5-63b89254ddb7
(Foto: Tokoh budaya NTB tokoh budaya Lalu Abdurahim/dok.ist)

“Ini bukan seremoni. Ini alarm keras bagi kita semua. Jika hari ini kita abai, besok kita akan kehilangan arah,” kata Mamiq Jagat penuh penekanan.

Gerakan ini berlanjut dalam forum lanjutan di Lombok Tengah yang melibatkan Wakil Bupati, Sekda, camat, kepala desa, serta tokoh masyarakat. Mereka secara bulat menolak praktik kawin anak dan menyerukan kembalinya masyarakat pada adat dan agama sebagai pedoman hidup.

“Adat Sasak tidak pernah mengajarkan kawin anak. Itu penyimpangan, bukan tradisi,” tegasnya.

Gerakan moral yang dimotori para tokoh ini menjadi sinyal bahwa NTB tidak tinggal diam. Dengan kekuatan budaya dan nilai keagamaannya, daerah ini sedang membangun benteng perlindungan untuk generasi penerus. Pesan mereka jelas: selamatkan anak-anak, jaga martabat masyarakat, dan lawan setiap bentuk penyimpangan sosial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!