Lombokvibes.com, Mataram– Di tengah padatnya arus kendaraan di simpang tiga Jalan Halmahera, Kelurahan Rembiga, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram, terdapat sosok yang setiap hari setia membantu kelancaran lalu lintas. Ia adalah Lalu Ratmaji, pria asal Dusun Gubuk Kute Timuk, Desa Sakra, Kecamatan Sakra, Lombok Timur.
Sudah sekitar lima tahun terakhir, Ratmaji mengabdikan dirinya sebagai relawan pengatur lalu lintas di simpang Rembiga yang terkenal selalu padat terlebih jika sore hari. Dengan peluit di tangan dan rompi sederhana yang dikenakannya, ia berdiri berjam-jam di tengah terik matahari maupun guyuran hujan demi membantu para pengguna jalan.
Melalui WhatsApp, Ratmaji mengaku memilih merantau ke Kota Mataram karena kesulitan mendapatkan pekerjaan di kampung halamannya. Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas membuatnya harus mencari peluang di kota.
“Saya datang ke Mataram untuk mencari nafkah. Di kampung sulit mendapatkan pekerjaan, sementara keluarga harus tetap makan dan kebutuhan sehari-hari harus dipenuhi,” ujarnya.
Pekerjaan sebagai relawan pengatur lalu lintas memang jauh dari kata mudah. Setiap hari ia harus berhadapan dengan padatnya kendaraan, debu jalanan, cuaca yang tidak menentu, hingga risiko keselamatan saat berada di tengah persimpangan.
Tak hanya itu, Ratmaji mengaku kerap menerima cibiran dan pandangan meremehkan dari sebagian pengguna jalan. Namun semua itu tidak membuatnya patah semangat.
“Yang penting saya bisa membawa pulang rezeki untuk keluarga. Mau dihina atau diremehkan, saya sudah biasa. Saya tetap bersyukur,” katanya.
Menurutnya, pekerjaan apa pun tidak perlu dipandang rendah selama dilakukan secara jujur dan halal. Prinsip itulah yang terus dipegangnya hingga kini.
Meski bukan petugas resmi kepolisian maupun instansi pemerintah, keberadaan Ratmaji di simpang Jalan Halmahera cukup membantu kelancaran arus kendaraan, terutama pada jam-jam sibuk ketika lalu lintas mulai padat.
Setiap hari, ia hadir lebih awal dan tetap bertahan hingga aktivitas lalu lintas kembali normal. Dedikasinya menjadi gambaran perjuangan masyarakat kecil yang bekerja keras demi mempertahankan kehidupan keluarga.
Di balik peluit yang ditiupnya dan gerakan tangannya mengatur kendaraan, tersimpan kisah tentang keteguhan seorang ayah dan kepala keluarga yang memilih tetap berdiri tegak menghadapi kerasnya kehidupan.
Bagi sebagian orang, Lalu Ratmaji mungkin hanya seorang relawan pengatur lalu lintas. Namun bagi keluarganya, ia adalah pahlawan yang tak pernah menyerah dalam memperjuangkan nafkah yang halal.
Setiap harinya, ia memperoleh pendapatan yang tak tentu. “Kadang 50 ribu, kadang 100,” ujarnya.
Uang yang ia peroleh digunakan untuk kehidupan sehari-hari, terutama untuk merawat sang ibu.
“Bapak saya sudah meninggal , dan saya lah satu-satunya tulang punggung keluarga,” kata dia.




























