BMKG peringatkan NTB siaga cuaca ekstrem selama sepekan: Hujan lebat, petir, angin kencang hingga gelombang tinggi mengintai 

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Lombokvibes.com, Mataram – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini kepada seluruh masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi peningkatan cuaca ekstrem selama periode 20 hingga 27 Januari 2026. 

Sejumlah fenomena atmosfer terpantau aktif dan berpotensi memicu hujan sedang hingga sangat lebat yang disertai petir, kilat, angin kencang, serta gelombang tinggi di wilayah perairan NTB.

Peringatan ini disampaikan melalui siaran pers resmi Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid Lombok Tengah. BMKG menyebut, kondisi atmosfer saat ini menunjukkan dinamika yang cukup kompleks dan berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan-awan konvektif jenis cumulonimbus di berbagai wilayah NTB.

“Berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer, saat ini terpantau adanya gangguan atmosfer yang mampu menyebabkan peningkatan potensi cuaca ekstrem di sekitar wilayah Indonesia, khususnya di sebagian wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat,” ujar Kepala Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid, Satria Topan Primadi, S.Si.

Dijelaskan, salah satu faktor utama pemicu kondisi ini adalah terpantau adanya Bibit Siklon Tropis 97S yang berada di wilayah pesisir utara Australia sebelah barat daya Teluk Carpentaria. Bibit siklon ini memiliki kecepatan angin maksimum mencapai 25 knot dengan tekanan udara minimum sekitar 998 hPa dan bergerak ke arah barat.

Selain itu, kondisi atmosfer di NTB juga dipengaruhi oleh aktifnya Madden Julian Oscillation (MJO) secara spasial, gelombang Rossby ekuator, serta gelombang Kelvin yang memperkuat proses pembentukan awan hujan. Pertemuan angin dan perlambatan kecepatan angin di wilayah NTB turut meningkatkan potensi hujan lebat.

“Dukungan kelembapan udara yang cenderung basah di berbagai lapisan ketinggian serta labilitas atmosfer yang kuat sangat mendukung proses konvektif skala lokal di wilayah NTB,” jelasnya. 

BMKG sendiri memprakirakan potensi hujan sedang hingga sangat lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang akan terjadi di hampir seluruh wilayah NTB selama periode 20 sampai 27 Januari 2026.

Adapun sebaran wilayah terdampak berdasarkan tanggal adalah sebagai berikut:

Tanggal 20 Januari 2026, potensi hujan lebat terjadi di Kota Mataram, Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima, dan Kota Bima.

Tanggal 21 Januari 2026, wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Kota Mataram, Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima, dan Kota Bima.

Tanggal 22 Januari 2026, kembali mencakup Kota Mataram, Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima, dan Kota Bima.

Tanggal 23 Januari 2026, potensi cuaca ekstrem masih terjadi di Kota Mataram, Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima, dan Kota Bima.

Tanggal 24 Januari 2026, wilayah yang sama kembali berpotensi terdampak, yakni Kota Mataram, Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima, dan Kota Bima.

Tanggal 25 Januari 2026, hujan lebat berpotensi terjadi di Kota Mataram, Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima, dan Kota Bima.

Sedangkan pada 26 Januari 2026, wilayah yang berpotensi mengalami hujan lebat meliputi Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Bima, dan Kabupaten Dompu.

Tak hanya cuaca ekstrem di daratan, BMKG juga mengingatkan adanya potensi gelombang tinggi di perairan NTB yang berbahaya bagi aktivitas pelayaran dan nelayan.

Untuk tanggal 20 Januari 2026, gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter berpotensi terjadi di Selat Lombok bagian utara, Selat Alas bagian utara, dan Selat Sape bagian utara. Sementara gelombang lebih tinggi, yakni 2,5 hingga 4,0 meter, berpotensi terjadi di Selat Lombok bagian selatan, Selat Alas bagian selatan, Selat Sape bagian selatan, serta perairan Samudera Hindia selatan NTB.

Pada 21 Januari 2026, pola gelombang relatif sama. Gelombang 1,25 hingga 2,5 meter berpotensi terjadi di Selat Lombok bagian utara, Selat Alas bagian utara, dan Selat Sape bagian utara. Sedangkan gelombang 2,5 hingga 4,0 meter berpotensi terjadi di Selat Lombok bagian selatan, Selat Alas bagian selatan, Selat Sape bagian selatan, serta Samudera Hindia selatan NTB.

Begitu pula pada 22 Januari 2026, gelombang 1,25 hingga 2,5 meter diprakirakan terjadi di Selat Lombok bagian utara, Selat Alas bagian utara, dan Selat Sape bagian utara. Sedangkan gelombang 2,5 hingga 4,0 meter berpotensi terjadi di Selat Lombok bagian selatan, Selat Alas bagian selatan, Selat Sape bagian selatan, serta Samudera Hindia selatan NTB.

BMKG menegaskan, kondisi ini harus menjadi perhatian serius bagi masyarakat, terutama yang bermukim di daerah rawan banjir, longsor, dan pohon tumbang, serta para nelayan dan pelaku transportasi laut.

“Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang, serta memperhatikan risiko banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan genangan air,” tulis BMKG.

Untuk wilayah perairan, BMKG meminta nelayan, operator kapal, dan pengguna jasa transportasi laut agar lebih berhati-hati. “Waspadai potensi gelombang tinggi yang dapat membahayakan keselamatan pelayaran, khususnya di perairan selatan NTB yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia,” jelasnya.

BMKG juga mengimbau masyarakat agar terus memantau perkembangan informasi cuaca terbaru melalui kanal resmi BMKG, baik website, media sosial, maupun aplikasi cuaca. Langkah ini penting agar masyarakat dapat melakukan mitigasi dini dan meminimalkan risiko bencana hidrometeorologi di tengah meningkatnya aktivitas cuaca ekstrem.

Dengan potensi cuaca ekstrem yang berlangsung hampir sepekan penuh, kesiapsiagaan semua pihak menjadi kunci. Kolaborasi antara pemerintah daerah, aparat kebencanaan, dan masyarakat sangat dibutuhkan agar dampak yang ditimbulkan dapat ditekan seminimal mungkin.

< a title=" milad bima 2025" target="_blank">

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *