Lombokvibes.com, Lombok Utara — Di antara aroma kopi di atas meja-meja kayu Bale Jukung, para penyair, pembaca, dan pengamat sastra berkumpul membedah buku puisi Topeng Labuapikarya Lamuh Syamsuar dalam rangkaian Festival Sastra Lombok Utara (Festalora) 2025.
Diskusi yang dimoderatori Eni Sukreni ini menghadirkan pembedah Yusran Hadi, S.Pd, penanggap Kiki Sulistyo dan De Galih Mulyadi, serta sang penulis sendiri, Lamuh Syamsuar. Sejak awal, Eni menegaskan pentingnya ruang-ruang diskusi semacam ini sebagai wahana pertumbuhan intelektual dan spiritual penulis muda Lombok Utara.
“Topeng Labuapi” menjadi diskusi buku sastra pembuka yang kuat di hari pertama Festalora, sebuah karya yang dianggap menyuarakan semangat lokalitas dan spiritualitas Sasak dalam bahasa yang puitik dan menggugah.
Yusran Hadi, sang pembedah, memandang Topeng Labuapi melalui kacamata sosiologi sastra dan kosmologi Sasak. Ia menilai Lamuh Syamsuar berhasil menangkap kesadaran kosmos yang menjadi bagian dari pandangan hidup masyarakat Sasak: bahwa alam bukan sekadar latar, melainkan entitas hidup yang berjiwa. Dalam budaya Sasak, hubungan manusia dengan alam adalah hubungan spiritual yang utuh, di mana timur melambangkan kelahiran dan barat menjadi simbol kematian. Gunung Rinjani, kata Yusran, menjadi kiblat spiritual yang memusatkan seluruh energi budaya Sasak.
“Lamuh menghadirkan pandangan kosmologis itu secara subtil dan puitik, dengan pendekatan yang bahkan mendekati sufistik,” ujar Yusran.
Dari sisi lain, penyair Kiki Sulistyo mengurai Topeng Labuapi melalui pendekatan strukturalisme. Ia menilai, buku ini menandai kematangan estetik Lamuh Syamsuar. “Dari tiga buku puisinya, Topeng Labuapi adalah puncak. Ia menulis di antara dua kutub: keteraturan kosmik ala Ilham Rabbani dan kekacauan puitik ala Sindu Putra,” ungkap Kiki.
Kiki kemudian memperkenalkan konsep “Khaosmos”, gabungan antara chaos dan cosmos, untuk menggambarkan dinamika puisi Lamuh. Dalam pandangannya, kekuatan Lamuh justru lahir dari kemampuannya menghadirkan keteraturan di tengah ketidakteraturan, menciptakan puisi yang terus terbuka untuk ditafsir ulang.
Sesi diskusi makin hidup ketika De Galih Mulyadi menyoroti persoalan kesadaran estetik dalam kekacauan bahasa. Ia mempertanyakan, apakah ketidakteraturan dalam puisi Lamuh adalah strategi artistik atau hasil spontanitas kreatif? Ia juga menyinggung hakikat keindahan, “Apakah keindahan hanya ada dalam keteraturan, atau justru tumbuh dari keberanian menabrak kaidah?”
Pertanyaan itu kemudian disusul oleh refleksi peserta lain seperti Neva dan Vildza, yang membahas soal kebebasan tanda baca dan penggunaan simbol-simbol dalam puisi.
Lamuh Syamsuar menanggapi dengan tenang. Ia mengakui, proses kreatifnya banyak dipengaruhi oleh dua nama besar: Adi Adyana Ole dan Sindu Putra. Dari keduanya, ia belajar tentang relasi antara bahasa, spiritualitas, dan misteri.
“Puisi yang baik tidak memberi kepastian,” kata Lamuh. “Ia menyembunyikan harmoni di dalam kekacauan. Dalam setiap puisi, saya mencari keteraturan di tengah ketidakteraturan, itu bagian dari perjalanan spiritual.”
Bagi Lamuh, puisi bukan alat menjelaskan dunia, melainkan sarana menyingkap yang tak pernah selesai. Di situlah, katanya, puisi hidup dan tumbuh.
Menjelang senja, diskusi ditutup dengan simpulan reflektif. Topeng Labuapi bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan ruang dialog antara manusia, alam, dan spiritualitas. Ia menjembatani nilai tradisi dan modernitas, menghadirkan perpaduan antara kosmos dan chaos sebagai ekspresi estetik sekaligus perenungan filosofis.
Moderator menutup dengan ucapan terima kasih kepada seluruh peserta dan narasumber. Sore itu, di bawah cahaya jingga yang jatuh di permukaan air, sesi foto bersama menjadi penanda akhir dari pertemuan sastra yang sarat makna: puisi sebagai jalan menuju keseimbangan antara harmoni dan kekacauan.




























