Lombokvibes.com, Mataram — Panggung Teater Tertutup Taman Budaya NTB menjadi ruang perjumpaan antara seni, ingatan, dan advokasi budaya, Selasa (6/1/2026).
Mahasiswa Program Studi Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) NTB menampilkan pentas hasil kelas bertajuk Leang, sebuah pertunjukan jurnalisme teater yang mengangkat tenun Leang sebagai simbol adat, agama, dan sendi kehidupan masyarakat Sasak.
Leang bukan sekadar pertunjukan akademik, melainkan pernyataan sikap kultural. Melalui pendekatan jurnalisme teater, mahasiswa Sendratasik menjadikan panggung sebagai medium penyampaian pesan sosial, dokumentasi ingatan kolektif, sekaligus advokasi nilai-nilai lokal yang kian tergerus zaman.
Pementasan ini disutradarai oleh Wahyu Kurnia, M.Sn., selaku Ketua Program Studi Sendratasik UNU NTB. Ia menjelaskan bahwa Leang merupakan kelanjutan dari pertunjukan sebelumnya, Kinrohosi, yang sama-sama berpijak pada konsep jurnalisme teater.
“Ketika kami mengetahui ada lanjutan tulisan dari Kinrohosi dengan konsep yang sama, kami merasa ini relevan untuk dipentaskan. Apalagi pada semester ini terdapat mata kuliah Pengkaryaan Seni Pertunjukan NTB yang berbasis isu-isu yang terjadi di NTB. Akhirnya kami sepakat memilih Leang dan memproduksinya dalam satu semester,” ujar Wahyu.
Menurutnya, jurnalisme teater menjadi pendekatan penting untuk menjembatani dunia riset, seni, dan masyarakat luas. Pesan-pesan kebudayaan yang tertulis dalam naskah tidak hanya dibaca, tetapi dihadirkan secara hidup di atas panggung agar dapat dirasakan secara emosional oleh penonton.
Proses kreatif Leang berlangsung sekitar empat bulan secara tidak penuh. Dinamika akademik mahasiswa, keterlibatan dalam Festival Teater Indonesia, serta aktivitas komunitas seni menjadi tantangan tersendiri. Latihan dilakukan rata-rata tiga kali dalam sepekan dan ditingkatkan intensitasnya menjelang pementasan.
Makna filosofis Leang mendapat penguatan dari kehadiran M. Yusuf, Kepala Dusun Bunmudrak, Lombok Utara, yang menyaksikan langsung pertunjukan tersebut. Ia menilai Leang sebagai representasi nilai mendalam dalam kehidupan masyarakat Sasak.
“Leang atau songket ini hanya terdiri dari satu warna yang melambangkan kesucian agama. Berbeda dengan kain tenun kembang komak yang memiliki warna hitam dan putih yang tidak bisa dipisahkan, sebagai simbol bahwa agama dan adat istiadat tidak dapat dipisahkan,” jelas Yusuf.
Ia menambahkan, Leang tidak semata-mata digunakan sebagai kain kafan, melainkan hadir dalam berbagai ritual adat dan aktivitas keseharian masyarakat Sasak, menjadikannya bagian penting dari siklus hidup dan spiritualitas.
Sementara itu, penulis naskah Leang, Fitri Rahmawati atau yang akrab disapa Mbak Pikong, mengungkapkan bahwa naskah ini lahir dari proses riset panjang selama kurang lebih dua tahun. Jurnalis Kompas TV tersebut melakukan pencarian data dan wawancara langsung dengan masyarakat Bunmudrak, Gumantar, serta sejumlah wilayah lain di Lombok Utara.
“Leang bukan hanya tentang kain kafan. Di dalamnya ada sendi-sendi kehidupan masyarakat Sasak. Namun dalam pertunjukan, ada inti-inti yang harus dirumuskan oleh sutradara, sehingga tidak semua pengetahuan yang kami peroleh bisa dihadirkan secara utuh,” ujar Fitri.
Ia menegaskan bahwa apa yang ditampilkan di panggung merupakan hasil terjemahan artistik dari pengalaman, cerita, dan pengetahuan yang diperoleh langsung dari para penenun serta masyarakat setempat.
Kekuatan narasi tersebut dihidupkan oleh para aktor Nurul, Nufus, Disan, Hida, Dini, Tia, Fida, Jimy, Heru, dan Zulni, serta kehadiran karakter Kuntril Jepang yang diperankan oleh Asa, Hizbul, Egyl, Ibnu, dan Ihsan. Disiplin aktor dan penghayatan yang matang menjadikan Leang tampil sebagai pertunjukan yang solid dan berkesadaran artistik tinggi.
Dari sisi artistik, Leang ditopang oleh tata musik garapan Yuda, Ojan, Rahman, Affan, dan Iful yang menghadirkan atmosfer bunyi subtil sekaligus menghantui. Perlengkapan artistik yang ditangani Kartawan tampil fungsional namun sarat simbol, sementara kerja kolektif HIMA Sentanu 23 menyatukan seluruh elemen produksi secara rapi dan terukur.
Kesuksesan pementasan ini juga tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, mulai dari Lampaq[K] Art Community, Sekolah Pedalangan Wayang Sasak (SPWS), HIMA Sentanu, hingga Taman Budaya NTB yang menyediakan ruang dan ekosistem pendukung kesenian.
Kolaborasi lintas komunitas dan institusi tersebut menegaskan posisi Leang sebagai karya kolektif yang lahir dari riset panjang, kerja bersama, dan komitmen untuk membaca ulang serta menjaga warisan budaya Sasak.
Melalui Leang, mahasiswa Sendratasik UNU NTB menunjukkan bahwa seni pertunjukan bukan hanya ruang ekspresi estetika, tetapi juga medium refleksi sosial, dokumentasi budaya, dan advokasi nilai-nilai lokal di tengah dinamika masyarakat kontemporer.




























