Lombokvibes.com, Lombok Utara – Di tengah maraknya konten sensasional yang sering memancing kontroversi demi meraih jutaan tayangan, Evi Febrianti (39) atau Evi Busur, kreator asal Gangga, Lombok Utara ini justru memilih jalan berbeda.
Perempuan yang juga berprofesi sebagai tenaga pendidik ini membuktikan bahwa konten positif, sederhana, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari tetap mampu mendatangkan penghasilan sekaligus kepercayaan publik.
Perjalanan Evi sebagai kreator konten Facebook bermula dari rasa penasaran. Ia mengaku terinspirasi oleh seorang kreator dari luar daerah yang rutin membagikan keindahan alam di sekitar tempat tinggalnya.
“Awal mula saya terjun ke Facebook karena termotivasi oleh salah satu konten kreator dari luar daerah. Kontennya tentang alam di sekitar rumah. Dari situ saya mulai membuat konten dengan tema yang sama pada November 2023,” ceritanya kepada Lombokvibes, kemarin.
Keputusan itu menjadi titik balik yang mengubah hidupnya. Setelah lebih dari setahun konsisten mengunggah video bertema alam, kerja kerasnya mulai membuahkan hasil. Pada Januari 2025, akun Facebook miliknya resmi dimonetisasi oleh Meta.
“Sekitar Januari 2025 akhirnya konten saya dibayar oleh Meta dan terus menghasilkan sampai sekarang,” katanya.
Konten Alam yang Menghasilkan Jutaan Tayangan

Sejak awal, Evi memilih fokus pada konten bertema alam karena memiliki penonton yang loyal. Beragam aktivitas sederhana seperti menampilkan buah-buahan hingga suasana pedesaan ternyata mampu menarik perhatian audiens.
Meski sempat ragu apakah kontennya akan diterima publik, kenyataan berbicara sebaliknya. Salah satu video tentang durian bahkan berhasil meledak di media sosial.
“Awalnya saya ragu, tapi ternyata benar-benar menghasilkan. Konten pertama yang viral itu tentang durian. Tayangan FYP sampai 8,6 juta,” ungkapnya.
Popularitas video tersebut bukan hanya mendatangkan pendapatan dari monetisasi, tetapi juga membuka banyak peluang baru. Menurut Evi, satu konten yang berhasil menembus jutaan penonton bisa menghasilkan pendapatan sekitar Rp5 juta.
Keberhasilan itulah yang membuatnya semakin konsisten membuat konten hingga saat ini.
“Yang membuat saya tetap konsisten ya karena memang menghasilkan,” ujarnya sambil tersenyum.
Tetap Menjadi Guru, Tetap Menjaga Nilai-Nilai Pendidikan

Di balik kesuksesannya sebagai kreator digital, Evi tetap menjalankan profesinya sebagai seorang pendidik. Menjadi guru merupakan cita-cita yang telah lama ia impikan.
“Menjadi pendidik itu sangat menantang, tapi itu memang cita-cita saya sejak dulu,” katanya.
Meski memiliki dua profesi sekaligus, Evi tidak menjadikan statusnya sebagai guru sebagai alat personal branding dalam kontennya. Ia mengaku jarang menampilkan aktivitas mengajar di media sosial.
Baginya, yang terpenting adalah menjaga keseimbangan antara pekerjaan, keluarga, dan aktivitas sebagai kreator konten.
“Membagi waktu antara mengajar, keluarga, dan membuat konten memang harus balance,” tuturnya.
Sebagai seorang guru, Evi juga memiliki prinsip yang selalu dipegang saat membuat konten.
“Nilai yang saya pegang adalah membuat konten-konten tentang kebaikan, seperti berbagi dan hal-hal positif lainnya,” katanya.
Menolak Konten Sensasional Demi FYP

Di era digital saat ini, banyak kreator rela melakukan berbagai cara demi mendapatkan perhatian publik. Namun Evi memiliki pandangan berbeda.
Ia secara tegas mengaku tidak setuju jika segala hal harus dikorbankan hanya demi mengejar FYP dan viralitas.
“Tidak setuju kalau semua dikorbankan demi FYP. Ada yang sampai hujat sana sini, julid bahkan kontennya memancing huru-hara. Saya tidak setuju,” tegasnya.
Menurutnya, media sosial seharusnya menjadi ruang yang memberikan manfaat bagi banyak orang.
“Saya lebih memilih membuat konten yang bermanfaat,” ujarnya.
Dari Promosi Jualan Teman hingga Dipercaya Brand Besar

Kesempatan di dunia endorsement datang secara tidak terduga. Awalnya, Evi hanya membantu mempromosikan usaha milik teman-temannya.
Namun seiring meningkatnya jumlah penonton dan kepercayaan publik, tawaran kerja sama mulai berdatangan dari berbagai pelaku usaha, UMKM, toko besar hingga perguruan tinggi.
“Awalnya saya cuma coba-coba promosiin jualan teman. Dari situ mulai ada tawaran dari berbagai toko, UMKM, universitas dan lainnya,” katanya.
Kini, endorsement menjadi salah satu sumber pendapatan yang cukup menjanjikan. Untuk pekerjaan di luar daerah seperti ke Pemenang, ia bisa menerima bayaran sekitar Rp400 ribu sekali liputan.
Meski begitu, Evi tetap selektif memilih produk yang akan dipromosikan.
“Saya memilih produk yang memang bagus dan terpercaya,” ujarnya.
Menurutnya, syarat utama agar seorang kreator dipercaya oleh banyak pihak adalah menjaga konsistensi dan kepercayaan.
“Kepercayaan dan konsisten itu yang paling utama,” katanya.
Menjadi Tempat Bertanya Ribuan Pengikut

Kepercayaan yang diberikan audiens ternyata tidak hanya berhenti pada angka tayangan dan jumlah pengikut.
Saat ini, banyak orang menjadikan Evi sebagai sumber rekomendasi sebelum membeli produk atau menggunakan layanan tertentu.
“Karena sering endorse, orang-orang jadi minta rekomendasi dari saya. Misalnya cari klinik, mereka chat saya. Mau beli iPhone juga sering tanya tempat yang bagus di mana,” ungkapnya.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pengaruh seorang kreator tidak hanya diukur dari jumlah pengikut, tetapi juga tingkat kepercayaan yang dibangun dengan audiens.
Semua Dikerjakan Sendiri

Di balik berbagai pencapaian yang diraih, Evi mengaku tidak memiliki tim khusus. Seluruh proses produksi konten dikerjakan secara mandiri.
“Tidak ada tim. Saya mengerjakan semuanya sendiri, mulai dari mengarahkan kameramen sampai edit video,” katanya.
Proses editing bahkan sering membuatnya harus bekerja hingga larut malam.
“Tantangan terbesar justru saat editing. Kadang saya bekerja sampai jam 12 malam,” ujarnya.
Meski demikian, ia bersyukur karena jarang menerima komentar negatif dari audiens.
Selain itu, ia mengaku tidak pernah kehabisan ide dan selalu bersemangat membuat konten baru.
“Tidak pernah kehabisan ide. Saya selalu semangat membuat konten,” katanya.
Dipercaya Menjadi Brand Ambassador
Dari sekadar hobi membuat video sederhana tentang alam, Evi kini berhasil mencapai salah satu pencapaian terbesar dalam karier digitalnya.
Ia dipercaya menjadi brand ambassador sejumlah usaha dan mendapatkan penghasilan tetap dari kerja sama tersebut.
“Pencapaian terbesar saya adalah saat dipercaya menjadi BA dan mendapatkan gaji,” ujarnya.
Baginya, momen paling membanggakan adalah ketika berbagai pemilik usaha dan brand besar mempercayakan promosi produk mereka kepadanya.
“Itu menjadi momen yang sangat berkesan karena berarti mereka percaya kepada saya,” katanya.
Media Sosial untuk Misi Sosial

Melihat perkembangan dunia digital saat ini, Evi menilai peluang menjadi kreator konten masih sangat terbuka lebar. Namun ia mengingatkan para pemula agar tidak mudah menyerah.
“Kesalahan pemula biasanya tidak konsisten,” ujarnya.
Ia juga berpesan agar para kreator membangun relasi yang baik dengan siapa pun.
“Jangan cuek atau acuh. Harus welcome kepada siapa pun,” katanya.
Lebih jauh, Evi berharap media sosial dapat digunakan sebagai sarana menyebarkan hal-hal positif dan membangun masyarakat.
“Caranya dengan menyajikan konten positif dan tidak menyudutkan satu sama lain,” ujarnya.
Ketika ditanya tentang mimpinya ke depan, jawaban Evi terdengar sederhana namun penuh makna.
“Saya ingin menjadi orang yang bermanfaat, bisa membantu sesama, dan berhasil di dunia konten,” katanya.
Bagi Evi, kesuksesan bukan semata soal jumlah pengikut, viralitas, ataupun penghasilan.
“Makna kesuksesan bagi saya adalah bisa bermanfaat bagi orang lain dan menggunakan media sosial untuk hal yang lebih baik. Bukan hanya sekadar ngonten, tapi lewat media ini kita bisa menjalankan misi sosial,” tutupnya.
Tiga kata yang menggambarkan perjalanan hidupnya hari ini adalah: semangat, konsisten, dan berhasil.




























