Lombokvibes.com, Lombok Utara – Festival Sastra Lombok Utara (Festalora) 2025 resmi berakhir dengan catatan manis. Selama tiga hari pelaksanaan, 23–25 Oktober 2025, acara yang digagas Sanggar Anak Gunung (SAG) itu berhasil menghadirkan suasana sastra yang hidup di tengah masyarakat, dari diskusi hingga pembacaan karya yang melibatkan siswa, mahasiswa, guru, dan seniman.
Ketua Panitia Festalora 2025, Syariff Amd.AK, menyebut antusiasme peserta menjadi tanda bahwa minat terhadap dunia sastra mulai tumbuh di Lombok Utara.
“Alhamdulillah cukup sukses melihat dari antusias peserta yang hadir dan keterlibatan mereka dalam diskusi maupun seminar. Banyak juga yang bersedia tampil di acara malam hari,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan terbesar dalam penyelenggaraan Festalora adalah memperkenalkan sastra kepada masyarakat.
“Masih banyak yang belum mengenal sastra di KLU, itu tantangan kami. Tapi kami terus berusaha agar sastra hidup dan berkembang di daerah ini,” katanya.
Festalora tahun ini menghadirkan sejumlah agenda penting seperti diskusi sastra bertema Daya Besar Kota Kecil, bedah buku Bilai karya De Galih Mulyadi, forum Sastra di Lombok Utara dan Suatu Kemungkinan, serta diskusi buku Topeng Labuapi.
Wakil Bupati Lombok Utara, Kusmalahadi Syamsuri, yang hadir pada malam puncak acara sekaligus menutup Fetsalora secara resmi, menyampaikan apresiasi tinggi atas semangat para pegiat literasi yang terus menjaga geliat sastra di daerah.
“Alhamdulillah malam ini adalah malam puncak Festalora yang diselenggarakan oleh SAG. Ini kegiatan yang tidak banyak orang bisa laksanakan karena tidak populer di masyarakat, tapi talenta kita ada. Insyaallah tahun depan, silakan koordinasi dengan kami, kita buat festival ini lebih besar lagi,” ujarnya.
Ia juga menegaskan, kegiatan sastra dan literasi seperti Festalora perlu dukungan penuh agar tidak berhenti di tengah jalan.
“Pegiat sastra itu orang-orang khusus, satu di antara sekian ribu penduduk kita. Kalau tidak kita dukung, kegiatan seperti ini bisa berhenti,” tambahnya.
Festalora 2025 menjadi ruang penting bagi para pegiat literasi Lombok Utara untuk memperkuat eksistensi karya sastra lokal dan membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak.




























