Warjack: Api kecil yang menjaga nyawa kesenian NTB 

Property of Lombokvibes media.
Property of Lombokvibes media.

Lombokvibes.com, Mataram– Di balik hiruk-pikuk pembangunan infrastruktur dan geliat pariwisata internasional di Nusa Tenggara Barat, sebuah ruang kecil bernama Warjack tumbuh sebagai napas segar kesenian lokal. Terletak di sudut timur Taman Budaya NTB, Warjack bukan gedung mewah, melainkan etalase sederhana—tetapi dari sanalah denyut budaya alternatif Mataram kembali hidup.

Didirikan 17 tahun silam oleh komunitas seni yang dipimpin musisi Ary Juliyant, Warjack dulunya menjadi rumah bagi program-program seperti Senin Sastra, Selasa Rupa, hingga Rabu Film Indie. Namun pandemi COVID-19 sempat membuatnya mati suri. Harapan baru muncul pada 2024, saat Mas Winsa, pendiri Teater Embrio Lombok, bersama para seniman muda, menghidupkan kembali Warjack dengan semangat kolektif dan gotong royong.

“Fakumnya selama COVID, kurang lebih tiga tahun. Memang agak berat memulai lagi, tapi aktivitas Warjack, terutama Pentas Selasa, harus tetap berjalan,” kata Mas Winsa.

Pentas Selasa sendiri bukan sekadar agenda mingguan. Ini adalah ruang bebas yang sejak 2007—dengan embrio sejak 2005—menjadi panggung ekspresi lintas disiplin: musik, teater, puisi, dan seni rupa. Di sinilah seniman muda berkarya tanpa tekanan dan tumbuh bersama komunitas.

Namun, perjuangan Warjack tidak mudah. Minim dukungan, fasilitas seadanya, dan kurangnya perhatian dari pemerintah membuat ruang ini berjalan di bawah bayang-bayang ketidakpedulian. Meski demikian, Warjack tetap menyala sebagai simbol gerilya budaya yang menjaga nyala seni di akar rumput.

Pendiri AJ\&F, Ary Juliyant, berharap kepemimpinan Gubernur NTB yang baru, Pak Iqbal, bisa membawa angin segar bagi dunia kesenian.

“Semoga Pak Iqbal bisa melahirkan kebijakan yang berpihak pada pergerakan kebudayaan NTB. Sekalipun belum menyentuh pelaku seni di level bawah, saya harap Warjack tetap jadi gerakan gerilya yang menjaga stamina kesenian,” ujarnya.

Ary juga menegaskan bahwa seni bukan sekadar hiburan, melainkan cabang ilmu yang mampu membentuk cara berpikir dan berkontribusi dalam membangun peradaban.

Warjack mungkin tidak disorot media nasional, tidak masuk dalam agenda resmi pemerintahan, tetapi di sanalah lahir percakapan, solidaritas, dan harapan. Ruang seperti Warjack membuktikan bahwa pembangunan sejati tidak hanya soal jalan dan jembatan, tapi juga soal menjaga jiwa, budaya, dan kemanusiaan.

Nusa Tenggara Barat tidak hanya butuh ruang untuk berwisata, tapi juga ruang untuk merasa, berpikir, dan bermimpi. Dan Warjack menjawab kebutuhan itu—dengan sunyi, semangat, dan ketulusan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!