Lailatulart ke-8: Ketika seni menyatu dalam ruang, waktu, dan jiwa

Property of Lombokvibes media.
Property of Lombokvibes media.

Lombokvibes.com, Mataram— Di bawah langit malam Lombok yang berselimut harap dan harmoni, Lailatul Art ke-8 hadir sebagai bukti bahwa seni bukan sekadar ekspresi—ia adalah jembatan lintas generasi, ruang, dan waktu.

Bertempat di Gedung Tertutup Taman Budaya NTB, acara ini diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Sentratasik Universitas Nahdlatul Ulama NTB (HIMA SENTANU) dengan mengusung tema “Rayakan Ruang dan Waktu” Sebuah ajakan yang tak hanya simbolik, namun nyata terasa sejak detik pertama panggung dibuka.

Acara diawali dengan sambutan menginspirasi dari Subhan, M.Si, selaku pembina HIMA SENTANU. Dalam pidatonya, ia menekankan bahwa Lailatul Art lebih dari sekadar pertunjukan—ia adalah ruang kolaborasi dan cinta terhadap budaya lokal. 

75206bf2-a3df-49b0-b1f2-1f11dc5e6667
(Foto: Pathanam String/dok.lombokvibes)

“Di sinilah ruang dan waktu menjadi milik kita bersama, guna membangun ekosistem berkesenian tidak hanya dalam kampus melainkan di Lombok secara luas,” ujarnya penuh makna.

Pertunjukan kemudian dibuka dengan harmoni khas dari Pathanam String, yang perlahan mengikis keheningan malam menjadi simfoni rasa. Suara merasuk, hati-hati tersentuh. Disusul kemudian penampilan memukau dari Divisi Tari dan Musik HIMA SENTANU yang membawa penonton melintasi lanskap emosional lewat koreografi yang hidup dan aransemen musik yang menyayat.

Puncak atmosfer hadir saat PELVIST sebagai bintang tamu naik ke panggung. Sang vokalis, Sani, menyampaikan kebanggaannya bisa menjadi bagian dari momen spesial ini. 

“Ruang ini bukan sekadar tempat, tapi wadah energi luar biasa,” katanya disambut sorak meriah.

Tak kalah berkesan, IN7UISI menutup malam dengan nada-nada kontemplatif yang membekukan waktu. Lantunan mereka membawa penonton ke dalam ruang refleksi—sebuah akhir yang sunyi, namun penuh gema.

8a85a2f2-3dd9-4e6c-bbea-6242a7604ec8
(Foto: Pelvist/dok.lombokvibes)

Salah satu penonton, Naila, mahasiswa asal Bali, mengungkapkan kekagumannya.

“Ini malam yang nggak akan saya lupakan. Semua penampilan begitu total dan menyentuh,” katanya.

Lailatul Art #8 bukan hanya sekadar festival seni. Ia adalah perjalanan spiritual dan kultural dalam satu malam. Bukti bahwa ketika diberi ruang dan waktu, seni bisa menjadi bahasa yang menyatukan—melintasi batas usia, ekspresi, bahkan logika.

< a title=" milad bima 2025" target="_blank">

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!