Dawang-dawang dan Rabies, dua teater satire karya De Galih Mulyadi yang mendobrak kesadaran anak muda untuk kritis

Property of Lombokvibes media.
Property of Lombokvibes media.

Lombokvibes.com, Lombok Utara— “Saya merasa lebih bahagia ketika naskah Rabies dan Dawang-dawang ini dapat membuka wawasan siswa, daripada masalah ke capaian prestasinya,” ujar De Galih Mulyadi, seorang penulis asal Lombok Utara, pada Senin pekan lalu, usai grup teater binaannya, Teater Bintang, berhasil keluar sebagai juara penyaji terbaik pada Pekan Teater Pelajar (PTP) se-NTB 2025. 

Melalui dua naskah karya De Galih Mulyadi yang berjudul Dawang-Dawang dan Rabies, Teater Bintang berhasil memboyong 4 (empat) piala sekaligus. Dawang-dawang dan Rabies juga berhasil menghabiskan tiket menonton terjual habis, hingga Gedung Taman Budaya sesak kepenuhan. Bahkan, dua naskah ini akan dipentaskan kembali di Sanggar Anak Gunung Lombok Utara, Minggu, 31 Mei besok ini.

De Galih Mulyadi, yang juga merupakan seorang guru di SMPN 4 Gangga itu, menceritakan inspirasi dua karya menakjubkan itu “lahir”. Berangkat dari keprihatinan terhadap keapatisan anak muda yang disibukkan dengan sosial media dan game oline, ia tergugah untuk menciptakan sebuah “peluru”. 

“Saat ini banyak anak-anak muda, terutama pelajar disibukkan dengan scrolling sosial media dan game online, padahal banyak hal yang yang harus diketahui mengenai kondisi kita saat ini,” ujarnya. 

Dawang-Dawang dan Rabies disebutkan seperti potongan-potongan puzzle mengenai kenyataan sosial dan politik saat ini tengah kita hadapi. 

Monolog Dawang-Dawang yang dibawakan lewat tokoh Inaq Tegining, seorang perempuan pembuat orang-orangan sawah, menjadi kritik keras terhadap kondisi politik tanah air. Ia menggambarkan, bagaimana dawang-dawang yang dulunya dibuat untuk mengusir burung, lambat laun justru berubah menjadi pengundang kehancuran. Analogi ini menggambarkan pemimpin yang dipilih dengan harapan besar, tetapi justru menjadi pemangsa rakyatnya sendiri.

“Kita dulu buat dawang-dawang untuk menjaga sawah, sekarang malah mereka yang habiskan semuanya, bahkan sampai nyawa pembuatnya sendiri,” ujar De Galih.

Sementara itu, Rabies hadir sebagai alegori penyakit sosial yang tak kunjung sembuh: korupsi, kolusi, nepotisme, dan oligarki. Judulnya sendiri dipilih sebagai representasi dari penyakit kronis yang tidak memiliki vaksin hingga kini. 

“Karya ini merupakan kumpulan potongan puzzle dari komentar YouTube, berita-berita viral, hingga fenomena sosial mutakhir yang dikemas dalam satire penuh humor, namun menyentil,” ujar pria kelahiran 1 September 1988 itu.

“Saya ingin siswa yang main, bukan sekadar tampil di panggung. Saya ingin mereka berpikir. Dan ternyata berhasil. Banyak dari mereka baru sadar soal betapa semrawutnya negeri ini. Bahkan 50 persen dari mereka sebelumnya benar-benar tidak tahu sama sekali,” sambungnya dengan penuh senyum.

Bahkan, banyak penonton Dawang-Dawang dan Rabies memberikan apresiasi terhadap apiknya Teater Bintang membawakan kedua naskah itu ke panggung. 

“Iya ada juga yang berterima kasih karena kami berhasil menyuarakan keresahan yang kita semua rasakan,” ceritanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!