Lombokvibes.com, Lombok Barat – Maestro penatah wayang Sasak asal Dusun Gunung Malang, Kecamatan Gerung, Lombok Barat, Amaq Darwilis, kembali mendapat apresiasi atas kiprahnya menjaga warisan budaya leluhur.
Pada Minggu (13/9/2025) kediamannya dikunjungi dosen Universitas Sains Malaysia bersama dosen Program Studi Seni Pertunjukan Universitas Bumi Gora NTB.
Kunjungan itu menjadi bentuk penghargaan terhadap konsistensi Amaq Darwilis yang sejak remaja menekuni seni menatah wayang kulit.
“Wayang bukan hanya karya seni, tapi warisan leluhur yang harus terus dijaga. Saya bersyukur masih bisa menekuni pekerjaan ini di tengah zaman yang semakin modern,” ujarnya.
Pria berusia 69 tahun yang bernama asli Darwinah ini mewarisi keahlian menatah wayang dari ayahnya yang juga seorang dalang. Karyanya dikenal dengan warna mencolok, kerapian, dan detail halus, sehingga kerap dipesan para dalang kondang.
Karya Amaq Darwilis tidak hanya tersebar di Lombok, tetapi juga dipamerkan di Museum Wayang Yogyakarta, Bali, hingga dikoleksi pecinta budaya di Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat.
Ia pun berharap perhatian akademisi dapat membuka jalan bagi pelestarian wayang Sasak. “Kalau ada generasi muda yang mau belajar, saya dengan senang hati mengajarkan. Semoga wayang Sasak tidak berhenti di tangan saya,” tambahnya.
Dosen Universitas Sains Malaysia, Dr. Fara Dayana, menilai wayang di Indonesia memiliki keragaman yang luar biasa dibanding Malaysia.
“Wayang Sasak unik dengan karakter warna dan detailnya. Dari kunjungan ini saya melihat betapa kayanya tradisi wayang di Nusantara,” katanya.
Sementara itu, dosen Prodi Seni Pertunjukan Universitas Bumi Gora, Taufik Mawardi, M.A., menegaskan perlunya dukungan bagi maestro lokal. “Sosok seperti Amaq Darwilis adalah inspirasi nyata bagi generasi muda. Konsistensi beliau menunjukkan seni tradisi tetap relevan dan layak diperkuat,” ujarnya.



































