108 ton sampah per hari didominasi oleh sisa makanan, Pemda KLU berencana siapkan tong komposter

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Lombokvibes.com, Lombok Utara – Persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Kabupaten Lombok Utara (KLU). Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) per 16 Juni 2025, volume sampah di daerah ini mencapai 108,79 ton per hari. Sebanyak 60 persen di antaranya didominasi sampah sisa makanan rumah tangga, sementara plastik menyumbang sekitar 15 persen.

Kabid Persampahan dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup KLU, Samsul Hadi, menyampaikan bahwa kondisi ini mendorong pemerintah daerah menyiapkan strategi baru. Salah satunya dengan menghadirkan tong komposter di setiap dusun untuk mengurangi timbulan sampah organik sejak dari sumbernya.

“Ya nanti kita siapkan anggaran khusus untuk itu,” ujarnya, (29/9/2025).

Menurut Samsul, pengadaan tong komposter diharapkan tidak hanya menekan jumlah sampah yang masuk ke Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R), tetapi juga mengubah perilaku masyarakat agar terbiasa memilah dan mengolah sampah.

“Persoalan sampah ini memang kompleks. Tapi perubahan perilaku masyarakat sangat penting supaya timbulan sampah tidak terlalu banyak,” jelasnya.

Saat ini, dari 19 unit TPS3R yang sudah dibangun pemerintah, enam unit tidak berfungsi, sementara 13 lainnya beroperasi secara tidak maksimal. Kondisi tersebut membuat peran masyarakat untuk mengurangi sampah dari rumah kian mendesak.

Kepala Dusun Majalangu, Desa Sokong, Aljihad Hidayatullah menyambut baik rencana tersebut. Ia menilai inisiatif menghadirkan tong komposter akan membantu warga, mengingat TPS3R di tempat ini tidak berfungsi sejak dibangun karena lokasinya yang terlalu dekat dengan rumah warga.

“Bagus sih Mbak kalau ada tong yang begitu,” ujarnya saat dihubungi lombokvibes.

Lebih jauh disebutkannya, pengadaan tong komposter lebih baik daripada melanjutkan TPS3R yang sudah terbangun di Majalangu.

”Kalau TPS3R dilanjutkan justeru menimbulkan masalah baru, karena suaranya berisik,” jelasnya.

Dia melanjutkan, TPS3R di Dusun Majalangu dibangun secara tidak tepat. “Lokasinya di belakang sekolah, dekat Masjid, dekat pemukiman, dan akses jalannya tidak ada,” keluhnya.

Saat ini, warga lebih memilih untuk membakar dan menimbun sampah. Meski beberapa juga membuang sampah melalui Dinas DLH KLU.

< a title=" milad bima 2025" target="_blank">

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!