Lombokvibes.com, Lombok Utara – Kabupaten Lombok Utara (KLU) berhasil mencatat penurunan angka kemiskinan sebesar 3,22 persen. Capaian ini menjadi dorongan optimisme pemerintah daerah untuk terus mempercepat langkah penanggulangan kemiskinan dan keluar dari status sebagai kabupaten termiskin di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Bupati Lombok Utara, H. Najmul Akhyar, mengatakan penurunan angka kemiskinan ini merupakan hasil kerja bersama seluruh pihak, baik legislatif, eksekutif, maupun organisasi perangkat daerah (OPD).
“Alhamdulillah, sisanya sekitar 20 sekian persen. Dua sampai tiga tahun ke depan, Lombok Utara tidak akan lagi menjadi kabupaten termiskin di NTB,” ujarnya kemarin (22/9/2025).
Najmul lebih jauh menegaskan, seluruh OPD harus memiliki agenda khusus untuk penanggulangan kemiskinan. Menurutnya, upaya tersebut harus dilakukan lintas sektor, bahkan oleh dinas yang tidak secara langsung berhubungan dengan isu kemiskinan.
“Misalnya Dinas Perhubungan, bisa memberdayakan ojek dan sopir. Perizinan juga harus dipermudah agar ekonomi masyarakat lebih cepat bergerak. Untuk penyerapan tenaga kerja, job fair yang biasanya sekali setahun sekarang saya instruksikan dua kali setahun,” jelasnya.
Selain itu, pemerintah daerah berencana memperbanyak event yang melibatkan masyarakat, seperti car free day, festival budaya, hingga pembangunan panggung terbuka di ruang-ruang publik. Agenda semacam ini diharapkan bisa menghadirkan pasar yang lebih luas bagi pelaku UMKM.
Najmul menyebutkan penurunan kemiskinan di Lombok Utara tidak lepas dari meningkatnya produktivitas masyarakat. Hal itu tercermin dari pergerakan ekonomi di berbagai sektor.
“Saya mendapatkan laporan dari Kepala Samsat bahwa Lombok Utara menjadi kabupaten dengan pembelian sepeda motor terbanyak di NTB. Ini bukan sesuatu yang kita jadikan kebanggaan, tetapi menjadi gambaran perkembangan ekonomi kita,” katanya.
Indikasi perputaran ekonomi juga terlihat dari aktivitas belanja online masyarakat. Camat Kayangan, lanjut Najmul, melaporkan nilai transaksi belanja online di wilayah tersebut mencapai Rp3 miliar hanya dalam kurun tiga bulan.
Menutup keterangannya, Najmul berpesan agar masyarakat tidak hanya terjebak pada gaya hidup konsumtif.
“Mari kita arahkan kemampuan kita untuk hal-hal yang bersifat produktif demi ketahanan ekonomi kita semua,” pungkasnya.



































