Belum diresmikan, paving Alun-alun Dayan Gunung ambles, kok bisa? Ini kata PUPR KLU

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Lombokvibes.com, Lombok Utara – Kerusakan pada sejumlah titik paving Alun-alun Dayan Gunung, termasuk jalur pemandu difabel (paving kuning) menjadi sorotan masyarakat. 

Permukaan yang tampak ambles dan tidak rata dinilai membahayakan pengguna, khususnya penyandang disabilitas dan pejalan kaki. 

Menanggapi hal tersebut, Dinas PUPR Lombok Utara memastikan, setelah adanya kerusakan itu, perbaikan langsung dilakukan oleh kontraktor. 

Kepala Bidang Cipta Karya PUPR KLU, Rangga Wijaya, menjelaskan bahwa penyebab utama amblesnya paving tersebut adalah kondisi tanah timbunan di bagian bawah yang kurang padat.

“Tanah timbunan di bawahnya kurang padat. Hari ini langsung diperbaiki oleh kontraktor,” kata Rangga kepada lombokvibes (13/1/2026).

Ia menegaskan, proyek tersebut masih berada dalam masa pemeliharaan dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab kontraktor. Dengan demikian, semua kerusakan yang muncul wajib diperbaiki tanpa membebani anggaran daerah.

“Ini masih dalam tanggungan kontraktor selama 160 hari ke depan, atau sekitar enam bulan,” jelasnya.

Menurut Rangga, masa pemeliharaan itu memang disiapkan untuk memastikan kualitas pekerjaan sesuai standar. Jika ditemukan kerusakan, penurunan tanah, atau hasil pekerjaan yang tidak maksimal, maka kontraktor wajib melakukan perbaikan.

“Masa tanggungan ini memang untuk memastikan hasil pekerjaan benar-benar layak. Jadi kalau ada yang kurang sempurna seperti ini, kontraktor harus bertanggung jawab penuh,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa perbaikan dilakukan dengan memadatkan ulang tanah timbunan di bagian bawah paving agar struktur lebih kuat dan tidak kembali ambles.

“Yang diperbaiki bukan hanya bagian atasnya, tapi struktur di bawahnya juga. Tanah timbunan akan dipadatkan ulang supaya tidak terjadi penurunan lagi,” tambah Rangga.

PUPR KLU berharap setelah perbaikan ini dilakukan, kualitas jalur pedestrian dan jalur difabel bisa kembali optimal, aman, dan nyaman digunakan masyarakat. Terlebih, jalur pemandu difabel memiliki fungsi vital sebagai fasilitas inklusif bagi penyandang disabilitas.

“Kita ingin fasilitas publik yang dibangun ini benar-benar aman dan nyaman. Apalagi ini menyangkut jalur difabel, jadi kualitasnya harus ekstra diperhatikan,” tegasnya.

Rangga juga meminta masyarakat tidak ragu melaporkan jika menemukan kerusakan serupa di fasilitas publik lainnya, agar bisa segera ditindaklanjuti selama masih dalam masa tanggungan kontraktor.

“Kalau ada temuan di lapangan, silakan sampaikan. Selama masih masa pemeliharaan, semua akan kita minta kontraktor untuk perbaiki,” pungkasnya.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya kualitas pengerjaan infrastruktur sejak tahap awal, terutama pada pemadatan tanah dasar. Sebab, sebaik apa pun material di permukaan, tanpa pondasi yang kuat, kerusakan akan mudah terjadi dan berpotensi membahayakan pengguna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!