Influenza pada anak meningkat, Dokter Spesialis Anak RSUD KLU ingatkan orang tua kenali gejala dan pentingnya vaksin

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Lombokvibes.com, Lombok Utara – Kasus influenza atau penyakit infeksi saluran pernapasan menular yang disebabkan oleh virus influenza dilaporkan meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Berdasarkan laporan penelitian Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), kasus influenza di Indonesia pada periode awal tahun hingga September 2026 ini mengalami peningkatan hingga dua kali lipat. Dari 33 persen penderita kasus ini adalah kelompok usia Balita (usia 0 hingga 4 tahun).

Dokter Spesialis Anak RSUD Kabupaten Lombok Utara (KLU), dr. Eriska Ayu Wirindri, Sp.A., atau yang akrab disapa dr.Rindri mengatakan, peningkatan kasus suspek influenza dengan keluhan batuk-pilek juga meningkat di beberapa daerah, termasuk Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Utara. 

“Kita menyebutnya suspek ya, karena untuk menentukan diagnosis influenza secara pasti itu harus kita lakukan PCR, uji laboratorium, kalau kasus suspek ini memang di Poli mengalami peningkatan,” ujar dr.Indri kepada kepada Lombokvibes.com, Senin (22/9/2026).

Dr.Rindri pun mengingatkan para orang tua agar tidak menganggap remeh influenza ini, karena penyakit ini berbeda dengan batuk pilek biasa dan dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

Influenza Bukan Flu Biasa

Dr. Rindri menjelaskan, saat ini masih banyak orang tua keliru menganggap influenza sama dengan batuk pilek biasa. Padahal gejalanya memiliki perbedaan yang cukup mencolok.

Pada batuk pilek biasa, gejala umumnya muncul bertahap dalam satu hingga dua hari, demam cenderung ringan atau bahkan tidak ada, nyeri badan tidak terlalu berat, dan anak masih bisa beraktivitas meski nafsu makan menurun.

Sementara pada influenza A, gejala muncul secara mendadak. Anak bisa langsung mengalami demam tinggi hingga 38,5–40 derajat Celsius, tubuh terasa pegal berat, lemas total, hidung tersumbat, batuk kering yang lebih berat, serta penurunan nafsu makan secara drastis.

“Influenza itu datangnya tiba-tiba. Anak yang sebelumnya aktif bisa langsung demam tinggi, lemas sekali, dan tidak mau makan,” jelasnya.

48 Jam Pertama Jadi Fase Krusial

Dr. Rindri menekankan bahwa 24 hingga 48 jam pertama setelah gejala muncul merupakan fase yang sangat penting untuk menentukan kondisi anak.

Pada fase ini, orang tua harus memastikan kebutuhan cairan anak terpenuhi karena tubuh membutuhkan asupan cairan yang cukup untuk melawan infeksi virus.

“Virus itu terapinya cairan. Anak harus banyak minum. Salah satu cara yang efektif juga adalah mencuci hidung menggunakan larutan NaCl 0,9 persen atau cairan saline,” jelasnya.

Ia menyarankan setiap keluarga yang memiliki balita untuk menyediakan termometer dan obat penurun panas seperti paracetamol di rumah.

“Orang tua harus memantau suhu tubuh anak. Kalau lemas sekali, segera periksakan ke fasilitas kesehatan, minimal puskesmas terlebih dahulu,” tambahnya lagi.

Evaluasi kondisi anak, lanjutnya, perlu dilakukan pada hari ketiga sejak gejala muncul. Jika kondisi tidak membaik atau justru memburuk, orang tua harus segera mencari pertolongan medis.

“Kalau anak tidak pipis lebih dari delapan jam, itu tanda dehidrasi. Kalau demam masih 38 sampai 39 derajat, atau hari kedua sempat membaik lalu hari ketiga memburuk, itu red flag,” tegasnya.

Tanda bahaya lain yang harus diwaspadai antara lain sesak napas, napas cepat, kualitas tidur menurun akibat batuk berat, anak tampak sangat lemah, serta asupan minum yang terus berkurang.

Hari Ketiga Jadi Titik Penentu

Menurut dr. Rindri, setelah orang tua memastikan anak cukup minum, cukup istirahat, dan mendapatkan penanganan awal yang tepat, kondisi anak perlu dievaluasi kembali pada hari ketiga.

Jika gejala mulai membaik, orang tua cukup melanjutkan perawatan di rumah dengan memastikan kebutuhan cairan dan nutrisi tetap terpenuhi.

Namun jika kondisi belum membaik atau justru semakin berat, orang tua harus segera membawa anak ke fasilitas kesehatan.

Beberapa tanda bahaya yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Tidak buang air kecil lebih dari delapan jam.
  • Demam tinggi yang menetap.
  • Napas cepat atau sesak napas.
  • Anak tampak sangat lemas.
  • Sempat membaik tetapi kemudian memburuk kembali.

“Kalau hari kedua sudah terlihat lebih baik lalu hari ketiga malah memburuk lagi, itu red flag yang tidak boleh diabaikan,” tegasnya.

Cuaca Tak Menentu Picu Risiko Penularan

Menurut dr. Rindri, kondisi cuaca yang tidak stabil saat ini turut meningkatkan risiko penyebaran influenza.

Virus influenza menyebar sangat mudah melalui droplet atau percikan saat seseorang batuk, bersin, bahkan berbicara. Risiko penularan semakin tinggi di sekolah, tempat bermain, maupun lingkungan padat penduduk karena anak-anak berinteraksi tanpa jarak.

“Penularannya sangat cepat. Anak pegang hidung lalu pegang mulut atau benda yang dipakai bersama, itu bisa menjadi media penularan. Karena itu kebersihan tangan sangat penting,” ujarnya.

Ia mengingatkan agar barang-barang pribadi tidak digunakan secara bergantian tanpa dibersihkan terlebih dahulu.

Vaksin Influenza Jadi Perlindungan Terbaik

Selain menjaga kebersihan, dr. Rindri menegaskan vaksinasi influenza merupakan langkah pencegahan yang paling efektif dan direkomendasikan oleh IDAI maupun Kementerian Kesehatan RI.

Vaksin influenza dapat diberikan mulai usia enam bulan. Untuk anak usia enam bulan hingga delapan tahun yang baru pertama kali menerima vaksin, diperlukan dua dosis dengan jarak empat minggu. Setelah itu vaksin diulang setiap tahun.

“Di atas usia sembilan tahun cukup satu dosis setiap tahun,” jelasnya.

Ia menerangkan bahwa virus influenza terus mengalami mutasi sehingga perlindungan vaksin perlu diperbarui setiap tahun mengikuti rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Saat ini vaksin influenza belum termasuk program imunisasi rutin pemerintah sehingga masyarakat masih harus mendapatkannya secara mandiri.

“Pencegahan jauh lebih baik dibandingkan menunggu anak sakit. Vaksin sangat penting terutama untuk anak-anak yang berisiko tinggi,” katanya.

Pesan untuk Orang Tua

Menjelang musim influenza, dr. Rindri meminta masyarakat Lombok Utara untuk lebih disiplin menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Ia mengingatkan pentingnya mencuci tangan menggunakan sabun, menerapkan etika batuk dan bersin dengan menutup menggunakan siku atau tisu, menjaga ventilasi rumah tetap terbuka agar tidak lembap, membersihkan AC secara berkala, serta menggunakan masker saat sakit atau berada di fasilitas kesehatan.

“Kalau anak terkena influenza, istirahat yang cukup, banyak minum, pantau kondisi tubuhnya, dan jangan ragu memeriksakan ke fasilitas kesehatan jika muncul tanda bahaya,” ujarnya.

Menurutnya, influenza bukan sekadar flu biasa. Dengan kewaspadaan sejak awal, orang tua dapat mencegah komplikasi dan mempercepat proses pemulihan anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!