Lombokvibes.com, Mataram — Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal mengingatkan pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTB agar lebih peka terhadap persoalan keumatan yang semakin kompleks, terutama isu sensitif seperti pelecehan seksual yang disebut terjadi di lingkungan pendidikan Islam. Ia menegaskan pentingnya peran ulama dalam membangun kepercayaan publik sekaligus menjaga marwah lembaga pendidikan keagamaan.
“Banyak terjadi pelecehan seksual justru di institusi pendidikan Islam kita. Jangan sampai muncul stigma pondok pesantren kita rentan terhadap kejahatan seksual,” tegas Iqbal saat pelantikan pengurus MUI NTB periode 2025–2030 di Auditorium UIN Mataram, Sabtu (11/4).
Iqbal berharap MUI NTB mengambil peran lebih aktif melalui ijtihad sosial untuk merespons berbagai persoalan umat yang berkembang di masyarakat. Menurutnya, ulama memiliki posisi strategis dalam memberikan arah moral sekaligus solusi terhadap tantangan sosial yang muncul.
Selain persoalan pelecehan seksual, Iqbal juga menyoroti kemiskinan ekstrem yang masih menjadi pekerjaan besar di NTB. Ia menyebut terdapat sekitar 114 ribu kepala keluarga di 106 desa yang masuk kategori tersebut. Penanganan kemiskinan ekstrem, lanjutnya, menjadi bagian dari program strategis pemerintah daerah bersama ketahanan pangan dan pengembangan pariwisata berkualitas.
Iqbal menambahkan pembangunan spiritual tidak dimasukkan sebagai program strategis tersendiri karena dianggap sebagai kewajiban pemerintah yang menjadi fondasi bagi keberhasilan seluruh program pembangunan lainnya.
“Pembangunan spiritual menjadi dasar agar program strategis lainnya dapat tercapai karena perilaku spiritual yang baik,” ujarnya.
Dalam acara yang sama, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nusron Wahid menegaskan pentingnya peran ulama dalam menjaga keberlangsungan negara. Ia menyebut tegaknya negara bergantung pada ilmu para ulama, keadilan hukum, serta politik yang menyejahterakan rakyat.
“Maka MUI sebagai wadah berkumpulnya para ulama memiliki peran besar,” kata Nusron.
Ia juga mengutip pesan ulama besar Abdul Qodir Jaelani tentang kriteria ulama yang layak diikuti, yakni memiliki ilmu dengan sanad yang jelas hingga Nabi Muhammad, mendedikasikan hidup untuk ibadah, serta memiliki rasa takut kepada Allah SWT.
Sementara itu, Ketua MUI Pusat Bidang Informasi, Komunikasi dan Digital KH Masduki Baidlowi menilai tantangan utama MUI saat ini adalah menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap otoritas ulama. Menurutnya, fenomena ini dipicu oleh dominasi algoritma media sosial yang lebih mengedepankan isu viral dibandingkan substansi keilmuan.
“Ini karena otoritasnya tergerus dan diambil oleh algoritma media sosial yang kecenderungannya mengabaikan substansi dan keilmuan tapi menggantinya dengan isu viral yang lebih banyak bersifat kurang penting dan dangkal,” ujarnya.
Ketua MUI NTB terpilih TGH Badrun menyatakan kepengurusan baru MUI NTB diisi 124 tokoh yang terdiri dari guru besar, doktor, ulama, dan cendekiawan. Ia menegaskan kesiapan MUI NTB untuk berkolaborasi dengan pemerintah dalam pembangunan umat.
“MUI NTB dengan 124 orang yang terdiri dari guru besar, doktor, ulama dan cendekiawan siap mendukung program pemerintah dalam hal pembangunan umat,” kata Badrun.




























