Lombokvibes.com, Lombok Barat — Tradisi budaya dan religi Perang Topat kembali menorehkan prestasi gemilang. Untuk ketiga kalinya, event sakral yang menjadi simbol kuat kerukunan umat Muslim Sasak dan Hindu Bali itu meraih piagam Karisma Event Nusantara (KEN) dari Kementerian Pariwisata.
Pengakuan nasional ini mendorong Bupati Lombok Barat (Lobar) Lalu Ahmad Zaini (LAZ) untuk mengarahkan Perang Topat naik kelas menjadi event berskala lebih besar dan berdampak luas bagi daerah.
LAZ menegaskan, bahwa setiap event di Lombok Barat harus memberi efek nyata terhadap ekonomi lokal dan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Karena itu, Perang Topat akan dievaluasi secara menyeluruh agar penyelenggaraan tahun depan dapat dipersiapkan lebih matang dan dipromosikan jauh sebelumnya.
“Kalau ke depan kita kemas jauh hari sebelumnya sudah kita promosi sehingga orang datang ke sini, menginap tiga hari, berbelanja tiga hari, itu akan membawa dampak peningkatan PAD. Itu yang kita harapkan,” ujarnya.
Bupati menekankan bahwa strategi event skala besar bukan sekadar soal jumlah kunjungan, tetapi juga mengangkat nilai Perang Topat sebagai ikon toleransi dunia. Sebagai langkah konkret, Pemkab Lobar berencana mengundang tokoh-tokoh penting hingga pemimpin lembaga agama tingkat pusat.
“Bila perlu Kementerian Agama kita undang menyaksikan bahwa toleransi itu seperti ini. MUI, pengurus agama pada level pusat, supaya melihat inilah bentuk toleransi yang harus kita pelihara,” tegasnya.
Tradisi Perang Topat yang berlangsung di kompleks Pura Lingsar setiap tahun bukan hanya tontonan budaya, melainkan warisan luhur yang menggambarkan keharmonisan dua etnis dan dua keyakinan. Dilaksanakan bersamaan dengan Pujawali Pura Lingsar atau pada Sasih Keenam kalender Sasak, event ini selalu memantik antusiasme ribuan pengunjung, baik lokal maupun mancanegara. Tahun ini, wisatawan dari Australia, Belanda, Latvia, Malaysia, dan berbagai negara tampak memenuhi kursi penonton.
Perang Topat merupakan puncak dari rangkaian ritual panjang selama sepuluh hari yang sarat nilai budaya dan spiritual. Beberapa prosesi kunci yang menggambarkan akulturasi adalah Roah Gubug, yaitu doa dan zikir memohon kelancaran acara yang dipimpin tokoh agama; Negelingan Kaoq atau menggiring kerbau, simbol penghormatan bersama umat Islam dan Hindu; serta Pujawali, sembahyang bersama umat Hindu yang berlangsung bersamaan dengan Perang Topat, diiringi Gendang Beleq dan kesenian tradisional lainnya.
Tak hanya menyimpan pesan persaudaraan, topat yang dilempar dalam perang dipercaya membawa berkah dan keselamatan. Bagi petani anggota Subak, ketupat tersebut diyakini mampu menyuburkan tanaman mereka. Perang Topat menjadi perpaduan unik antara spiritualitas, budaya, dan mata pencaharian, serta pengingat kuat bahwa perbedaan keyakinan dapat hidup berdampingan dalam harmoni.
Simbolisme ketupat yang melayang di udara setiap tahun menjadi pesan abadi bagi bangsa: kerukunan bukan sekadar slogan, tetapi tradisi yang dirawat dan dirayakan bersama.



































