Lombokvibes.com, Lombok Utara – Kinerja sektor pariwisata darat di Kabupaten Lombok Utara menunjukkan tren positif. Desa Wisata Senaru mencatat kontribusi signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah pada 2025 dengan sumbangan mencapai Rp800 juta. Capaian ini menjadi sinyal kuat bahwa destinasi berbasis desa wisata mulai menjadi tulang punggung baru pendapatan daerah.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Utara, Denda Dewi Tresni Budi Astuti, menegaskan bahwa capaian tersebut bukan hanya angka semata, tetapi indikator kebangkitan destinasi darat yang selama ini terus diperkuat.
“Desa Wisata Senaru pada tahun 2025 menyumbang Rp800 juta untuk PAD Kabupaten Lombok Utara. Ini bukti bahwa wisata darat kita punya potensi besar jika dikelola dan dikolaborasikan dengan baik,” ujarnya saat ditemui, kemarin.
Data retribusi tempat rekreasi dan olahraga Kabupaten Lombok Utara dalam lima tahun terakhir memang menunjukkan lonjakan signifikan. Setelah sempat berada di angka Rp16 juta pada 2021 dan meningkat menjadi Rp728 juta pada 2022, realisasi terus melonjak hingga Rp3,7 miliar pada 2023. Pada 2024 bahkan melampaui target dengan capaian lebih dari 138 persen atau Rp9 miliar lebih. Tahun 2025 kembali menembus target dengan realisasi Rp9,26 miliar atau 102,99 persen.
Dengan tren tersebut, Pemerintah Daerah kini memasang target ambisius pada 2026 sebesar Rp16,2 miliar.
“Sekarang di tahun 2026 ini target kita Rp16,2 miliar. Tentu ini bukan angka kecil, tapi kami optimistis dengan strategi pengembangan destinasi darat yang sedang kami lakukan,” kata Denda.
Salah satu strategi kunci adalah memperkuat kolaborasi lintas sektor. Dinas Pariwisata KLU telah menandatangani nota kesepahaman dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia serta desa-desa wisata untuk mengembangkan paket wisata darat secara terpadu.
“Kami di Dispar sudah menandatangani MOU dengan PHRI dan desa-desa wisata. Nantinya kita akan saling berkolaborasi, termasuk barter paket dengan destinasi darat yang dikembangkan oleh pokdarwis kita,” jelasnya.
Skema kolaborasi ini memungkinkan wisatawan yang menginap di hotel atau resort mendapatkan penawaran paket wisata darat yang dikelola kelompok sadar wisata. Sebaliknya, desa wisata juga dapat terhubung dengan jaringan perhotelan untuk memperluas akses pasar.
Menurut Denda, pendekatan ini bukan sekadar promosi, tetapi membangun ekosistem pariwisata yang saling menguatkan antara destinasi laut dan darat.
“Semoga ini bisa meningkatkan kunjungan wisatawan ke destinasi laut maupun darat kita. Kita ingin pergerakan wisatawan lebih merata, tidak hanya terpusat di satu titik,” ujarnya.
Selain penguatan paket wisata, Pemda juga mulai memetakan pengembangan amenitas, khususnya homestay di desa wisata. Tren wisata saat ini, kata Denda, menunjukkan perubahan preferensi wisatawan yang lebih menyukai pengalaman autentik dan kebersamaan keluarga.
“Kami melihat sekarang wisatawan ingin berkumpul dengan keluarga, makan bersama, dan ikut aktivitas lokal. Karena itu, homestay akan kita kembangkan agar wisatawan bisa merasakan pengalaman tinggal langsung di desa,” katanya.
Model ini dinilai tidak hanya meningkatkan lama tinggal wisatawan, tetapi juga memperbesar perputaran ekonomi masyarakat lokal. Aktivitas seperti memasak makanan tradisional, ikut kegiatan pertanian, hingga eksplorasi budaya setempat menjadi daya tarik baru yang bernilai jual tinggi.
Dengan kontribusi Rp800 juta dari Desa Wisata Senaru pada 2025 dan target Rp16,2 miliar pada 2026, Lombok Utara kini menegaskan arah pembangunan pariwisatanya: memperkuat daratan tanpa meninggalkan kejayaan destinasi laut.
Jika kolaborasi berjalan konsisten dan pengembangan homestay terealisasi optimal, bukan tidak mungkin desa wisata akan menjadi motor utama pertumbuhan PAD KLU dalam beberapa tahun ke depan.








































