Bubur Puteq, tradisi sakral yang masih dijaga kuat masyarakat Tetebatu Lombok Timur

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Lombokvibes.com, Lombok Timur – Setiap 12 Muharram, warga Desa Tetebatu di Lombok Timur berkumpul di Bale Adat Pancor Kopong, membawa niat yang sama untuk merawat tradisi Maulid Adat melalui sajian sederhana namun penuh filosofi, Bubur Puteq.

Dua jenis bubur disiapkan, putih dan merah, yang masing-masing mewakili simbol penting dalam proses penciptaan manusia. 

Warna putih melambangkan asal mula dari mani, sementara merah menggambarkan gumpalan darah. “Ini pengingat akan asal-usul kita sebagai manusia,” ujar Amaq Sukirman, ketua adat Tetebatu.

Ritual ini tak hanya menjadi bentuk penghormatan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menyatukan nilai-nilai spiritual dan kearifan lokal dalam satu peristiwa sakral. 

Persiapan dimulai sehari sebelumnya. Warga dari berbagai kalangan bergotong royong memasak bubur, merapikan bale adat, dan menyiapkan perlengkapan doa bersama.

Muhammad Rizan Hadi, tokoh muda adat yang juga aktif dalam pelestarian budaya, menilai keterlibatan generasi muda menjadi kunci keberlanjutan tradisi ini. 

“Sekarang sudah mulai ada ruang untuk memperkenalkan tradisi ini ke luar, tapi tetap dengan menjaga kesakralannya,” ujarnya.

Tradisi Bubur Puteq juga menarik perhatian para pengunjung. Beberapa pengunjung mengatakan tradisi ini layak menjadi bahan ajar di sekolah, melalui kurikulum muatan lokal. Selain dinilai layak menjadi bahan ajar, festival budaya berbasis anak muda harus digelar rutin, agar kecintaan terhadap budaya tumbuh sejak dini.

Tetebatu sendiri telah dikenal sebagai desa wisata dengan alam yang memikat dan budaya seperti Peresean yang mulai dikenal luas. Namun, Bubur Puteq tetap menjadi kekayaan yang belum banyak terekspos. 

Dukungan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta kerja sama dengan komunitas lokal dinilai penting agar tradisi ini mendapat tempat di panggung budaya nasional.

Lebih dari sekadar upacara, Bubur Puteq adalah cara masyarakat Tetebatu menjaga warisan. Di tengah arus modernisasi, tradisi ini mengajarkan pentingnya gotong royong, refleksi spiritual, dan kebanggaan atas identitas budaya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!