Peraras #9: Ketika mahasiswa bicara UKM seni di NTB, minim ruang ekspresi dan apresiasi

Property of Lombokvibes media.
Property of Lombokvibes media.

Lombokvibes.com, Mataram – Forum diskusi seni budaya bulanan PERARAS kembali digelar untuk kesembilan kalinya. 

Forum diskusi yang diselenggarakan oleh Lampaqk Art Community, komunitas kreatif yang konsisten menghadirkan ruang-ruang dialektika seni di Nusa Tenggara Barat, itu mengusung tema “UKM dan Budaya Seni Kampus #2”. 

Ada banyak peserta yang hadir. Terdiri dari mahasiswa, pelaku seni, dan komunitas budaya lainnya. 

Peraras #9 bukan hanya forum diskusi, tetapi menjadi wadah terbuka untuk mengupas tuntas persoalan serta potensi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) seni dan musik di lingkungan perguruan tinggi. 

“Fokus utamanya kita adalah menyoroti bagaimana UKM menjadi ruang ekspresi di tengah tantangan minimnya dukungan institusional. Banyak ekspresi seni di kampus yang padam bukan karena tidak ada ide, tapi karena tidak ada ruang,” ujar Ketua Panitia, Sauri, (30/5/2025).

Diskusi Peraras #9 sendiri menghadirkan tiga narasumber yang berbagi pengalaman dari kampus masing-masing, di antaranya, Dika Fasha Anugrah, Wakil Ketua UKM Musik Universitas Bumi Gora yang menyoroti pentingnya ruang bebas berekspresi di tengah keterbatasan fasilitas. Lalu Wiraggaoz, Ketua UKM Seni Budaya Universitas Mataram, yang membeberkan  rencana peluncuran karya musik orisinil sebagai bentuk kontribusi nyata. Sementara, I Kadek Sathya Mandala dari IAHN Mataram, menyoroti peran mahasiswa yang seringkali hanya menjadikan UKM sebagai formalitas administratif.

Selain itu, isu lain yang turut diangkat adalah kurangnya apresiasi dari pihak kampus terhadap pencapaian seni, serta kebutuhan kolaborasi lintas kampus untuk menghidupkan ekosistem seni yang lebih progresif.

Salah satu peserta, Abo, alumni Sendratasik UNU NTB, mempertanyakan kesinambungan ruang seni pasca-mahasiswa. “Bagaimana ruang seni setelah menjadi mahasiswa,” ujarnya.

Para narasumber kemudian sepakat bahwa seni harus menjadi bagian dari pembangunan masyarakat, bukan sekadar aktivitas kampus semata.

Ketua Lampaqk Art Community, Kak Wahyu, menutup diskusi dengan sebuah analogi menarik. 

“UKM itu seperti api kecil. Kalau dijaga dan diarahkan, dia bisa jadi gunung berapi aktif yang mengubah lanskap budaya,” ujarnya. 

Ia pun mengajak semua pihak di kampus untuk terlibat aktif dalam menciptakan ruang kolaboratif yang mendukung karya-karya visioner dan berkelanjutan.

Melalui semangat “dari kampus untuk masyarakat”, PERARAS #9 menunjukkan bahwa mahasiswa bukan hanya bisa bicara soal perubahan, tapi juga menciptakannya—melalui seni, budaya, dan kesadaran kolektif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!