Lombokvibes.com, Lombok Utara — “Saya berhenti sekolah setelah lulus SMP,” ujar Kiki Sulistyo, penulis buku “Tuhan Padi” saat mengawali cerita perjalanan proses kreatif sastranya di hadapan puluhan peserta yang hadir pada acara Mimbar Buku Sanggar Anak Gunung 2025, di Bale Jukung (28/8/2025).
Suasana hangat namun penuh semangat menyelimuti acara yang diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Pengembangan, Pembinaan, dan Pemanfaatan Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.
Acara ini menjadi bagian dari Program Penguatan Komunitas Sastra dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI.
Di hadapan puluhan peserta yang terdiri dari pelajar, penyair muda, dan para guru Bahasa Indonesia se-Kabupaten Lombok Utara, Kiki membuka sesi dengan perjalanan panjang dirinya hingga menjadi seorang penulis.
Penulis buku Rawi Tanah Bakarti (2018) dan Tuhan Padi (2021) ini menghidupkan suasana dengan kisahnya yang sarat perjuangan dan kepekaan terhadap dunia sekitarnya.
Buku puisinya yang berjudul “Tuhan Padi” yang terpilih sebagai Buku Puisi Terbaik Pilihan Tempo 2021 itu dibedah oleh Lamuh Syamsuar dengan sudut pandang Pangupajiwa, suatu pendekatan yang menelusuri jiwa kebudayaan, terutama dalam konteks kultur agraris masyarakat Lombok.
Dalam pembedahannya, Lamuh Syamsuar menyandingkan narasi-narasi puitis Kiki dengan realitas agraris serta transisi antara nilai-nilai tradisional dan modern. Ia menyoroti bagaimana Tuhan Padi merekam denyut hidup masyarakat melalui simbol-simbol yang akrab namun sarat makna.
Dipandu oleh moderator Yusran Hadi, Bedah Buku “Tuhan Padi” yang dihadirkan oleh Sanggar Anak Gunung ini tidak hanya menyajikan diskusi sastra, tapi juga menginspirasi banyak peserta, terutama generasi muda, untuk tidak menyerah pada keterbatasan.
Kiki Sulistyo, sang penyair, memaparkan bahwa ada empat unsur penting dalam penciptaan karya sastra. “Yang pertama adalah pengalaman, kedua imajinasi, ketiga pengetahuan, dan keempat keterampilan,” katanya.
Kiki menegaskan, bahwa keterampilan adalah unsur yang paling mahal karena tidak cukup hanya dimiliki, tapi harus terus dilatih dan diasah.
Mimbar Buku Sanggar Anak Gunung 2025 pun menjadi ruang pertemuan penting bagi ekosistem literasi dan kesenian Lombok Utara, sekaligus menjadi bukti bahwa karya sastra tetap tumbuh subur, bahkan dari kaki-kaki gunung.













































