Iblis Tanah Suci karya Arianto kembali dibedah di Lombok Utara, menguak eksotisme budaya dan ingatan kolektif

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Lombokvibes.com, Lombok Utara – Diskusi buku “Iblis Tanah Suci” karya Arianto Adipurwanto kembali digelar, kali ini di Aula Perpustakaan Daerah Lombok Utara, Sabtu 29 Agustus 2025. Setelah sebelumnya pernah dibincangkan dalam kegiatan Balai Bahasa Provinsi NTB, karya ini terus memantik perhatian publik, terlebih usai kembali masuk daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2025.

Diskusi menghadirkan Arianto Adipurwanto yang terbang langsung dari Bima sebagai narasumber, serta Raden Eko Wahono yang merupakan cerpenis, penulis lakon, sekaligus pendiri Teater LHO sebagai pembedah. Sementara itu, Saskia Septina Dewi, Duta Baca Perpustakaan dan Arsip Daerah Lombok Utara, dipercaya sebagai pemandu acara.

Lebih dari 50 peserta hadir, sebagian besar pelajar, disertai mahasiswa, guru, hingga pegiat literasi. Setiap peserta mendapatkan buku bacaan, sebagian besar adalah “Iblis Tanah Suci”, sebagai upaya memperkenalkan karya penulis lokal yang berhasil menembus panggung sastra nasional.

Dalam pemaparannya, Arianto mengungkap bahwa cerpen-cerpen dalam buku ini banyak bersumber dari pengalaman masa kecil dan cerita-cerita lisan masyarakat. Baginya, kosa kata lama, nama tempat, hingga kebiasaan yang mulai hilang harus diabadikan lewat tulisan agar tidak tenggelam bersama waktu.

“Bisa dibayangkan apa yang terjadi jika tidak ada yang mau menuliskan kembali kata-kata, panggilan khas, atau nama wilayah yang ditinggalkan penghuninya. Semuanya bisa hilang begitu saja,” ujar Ari.

Sementara itu, Eko Wahono dalam esai “Potret Marginalisasi Budaya” menyoroti bagaimana cerpen-cerpen Arianto menghadirkan tokoh-tokoh yang suram sekaligus memikat, seperti Mak Kepaq, Koroq Kentang, Sudar Gana, dan Naq Colaq, serta latar Sungai Keditan yang menjadi ruang peristiwa penuh simbol. 

  • 70babed0-d3fc-4e1c-bdfc-e8b5c3a9e794

Menurutnya, karya Ari menghidupkan eksotisme geografis dan kultural, sekaligus mengingatkan pada tradisi sastra Indonesia yang pernah ditulis Kuntowijoyo.

Diskusi semakin hangat ketika peserta berebut kesempatan bertanya. Salah satunya, Farras, yang penasaran mengapa Arianto memilih judul “Iblis Tanah Suci”, padahal dua kata tersebut mengandung makna yang saling bertentangan. Pertanyaan itu memantik perbincangan mendalam tentang simbol, paradoks, dan tafsir dalam sastra.

Acara ditutup dengan pembacaan cerpen “Bapak Memandangku Sambil Mengacungkan Parang” oleh De Galih Mulyadi, yang memberi penekanan emosional di akhir diskusi.

Diskusi ini tidak hanya memperkenalkan karya Arianto, tetapi juga menegaskan pentingnya sastra sebagai ruang penyelamatan ingatan, bahasa, dan budaya lokal di tengah derasnya arus perubahan zaman.

< a title=" milad bima 2025" target="_blank">

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!