Ketika penonton diajak menyusuri sejarah maritim dengan naik odong-odong

Property of Lombokvibes media.
Property of Lombokvibes media.

Lombokvibes.com, Mataram– Malam Jumat kemarin, suasana Kota Mataram berubah menjadi panggung estafet bagi pertunjukan teater eksperimental “Hikayat Ampenan”. 

Dengan iringan lampu warna-warni dan denting musik eksperimental, penonton diajak menaiki odong-odong atau kereta wisata, menelusuri tiga titik penting pementasan yang menghadirkan nuansa teatrikal tak biasa—bukan hanya menyentuh visual dan intelektual, tapi juga spasial dan emosional.

Dimulai dari Taman Budaya NTB, odong-odong berangkat membawa penonton menuju Museum Provinsi NTB, lokasi pertama pertunjukan. Di sini, Auditorium Samalas menjadi panggung bagi lecture performance yang membuka tabir sejarah maritim Nusantara. Lalu perjalanan berlanjut ke Gedung Ekraf Taman Jangkar, Ampenan, tempat sound art dan visual performance menghipnotis penonton dalam atmosfer historis. Puncaknya berlangsung di Teater Arena Terbuka, Taman Budaya NTB, dengan pertunjukan teater berbasis ketubuhan yang membakar emosi dan imajinasi.

Disutradarai oleh Syamsul Fajri Nurawat, atau yang akrab disapa Kang Jabo, pertunjukan ini digagas oleh SFNlabs dan merupakan hasil proses kreatif selama enam bulan. Kang Jabo mengungkapkan rasa syukurnya atas kesuksesan malam itu.

4e7e96d5-756f-42c5-8438-534541de10c4
(Foto: Pertunjukan Hikayat Ampenan/dok.Akmal lombokvibes)

“Ini adalah hasil dari kerja kolektif yang luar biasa. Meski masih banyak yang bisa dikembangkan, malam ini kami telah menunjukkan bahwa sejarah maritim kita bisa dihidupkan kembali lewat seni pertunjukan,” ujarnya.

Lebih dari sekadar tontonan, “Hikayat Ampenan” menyampaikan pesan penting tentang pentingnya kesadaran sejarah maritim dan upaya menjadikan Ampenan sebagai pusat studi serta kajian kemaritiman. Sebuah visi besar yang ingin mendorong terwujudnya museum maritim dan destinasi wisata berbasis sejarah.

Ulan, salah satu aktor perempuan dalam pertunjukan ini, mengungkapkan tantangan dan keunikan yang ia rasakan.

“Ini pertama kalinya saya main teater di tiga tempat dalam satu hari. Tantangannya luar biasa, menjaga mood tetap utuh dari awal sampai akhir benar-benar menguji stamina dan fokus,” katanya.

Sementara itu, bagi penonton seperti Irma, perjalanan dengan odong-odong justru menjadi bagian paling menarik dari pengalaman tersebut.

“Saya merasa seperti jadi bagian dari pertunjukan. Biasanya naik odong-odong itu hiburan anak-anak, tapi malam ini, ada noise, ada visual, saya seperti sedang ikut bermain dalam cerita,” katanya.

Pengalaman berbeda juga dirasakan oleh Ispan, penonton yang mengikuti pertunjukan dari awal hingga akhir.

“Di lokasi pertama saya sempat merasa mengantuk, tapi di tempat kedua saya seperti ditarik masuk ke masa lalu. Dan di akhir, saya merasa seperti sedang berlayar menuju masa depan. Pesan pertunjukan ini benar-benar sampai,” timpal Ispan.

Hikayat Ampenan bukan hanya sekadar pertunjukan, melainkan sebuah pengalaman lintas ruang dan waktu—mengajak kita menengok kembali akar sejarah kemaritiman dan membayangkan masa depan yang berpijak pada kesadaran sejarah. Sebuah langkah kecil yang terasa megah, menghidupkan kembali kota tua Ampenan sebagai nadi peradaban dan ingatan kolektif bangsa maritim.

< a title=" milad bima 2025" target="_blank">

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!