Kinrohosi dan Hikayat Tolak Bala: Perpaduan mitos dan kritik sosial di panggung teater

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Lombokvibes.com, Mataram– Sebuah pertunjukan teater eksperimental bertajuk “Kinrohosi dan Hikayat Tolak Bala” hadir sebagai angin segar dalam dunia seni pertunjukan Indonesia. Karya yang ditulis oleh Pikong Rahmawati dan disutradarai oleh Abdul Latif Apriaman ini mengangkat isu bencana, mitos, dan trauma kolektif dengan pendekatan puitik yang menggetarkan.

Berlatar masa penjajahan Jepang di Desa Gumantar, Lombok Utara, ketika tanam paksa kapas dilakukan secara brutal, pertunjukan ini membentangkan kisah fiktif namun sangat relevan dengan kenyataan sosial. Sosok “Kinrohosi” – makhluk rekaan yang namanya diambil dari istilah gotong royong dalam bahasa Jepang – menjadi simbol dari bencana, kekuatan alam, dan ketakutan kolektif yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dengan tata panggung minimalis yang bermain pada cahaya remang dan suara ambient yang menggema, penonton dibawa masuk ke ruang imajinasi yang nyaris mistikal. Tubuh para aktor menjadi pusat narasi; bukan sekadar menyampaikan dialog, melainkan menjelma menjadi medium hidup yang menyuarakan mitos, perlawanan, dan harapan.

Hikayat Tolak Bala menjadi bagian penting dari pertunjukan ini. Melalui penggalan narasi lisan, mantra, dan ritual tubuh yang hidup, pertunjukan ini menciptakan atmosfer seperti “nyanyian arwah” yang menjembatani masa lalu dan masa kini. Tradisi lokal dihidupkan kembali, namun tidak sekadar sebagai hiasan budaya, melainkan sebagai sarana refleksi dan kritik terhadap kondisi sosial dan spiritual masa kini.

Pikong Rahmawati, yang juga tampil sebagai narator dan tokoh sentral, berhasil menghadirkan spektrum emosi yang luas – dari ketakutan dan keputusasaan hingga keberanian untuk menolak nasib. 

Bersama para pemain lain seperti Salam Efendi, Wahyu Kurnia, Sopiyan Hidayat, dan Sopiyan Sauri, pertunjukan ini menghadirkan lapisan-lapisan karakter yang kompleks: ada yang mistis, ada yang logis, ada pula yang memprovokasi kesadaran sosial penonton.

Menariknya, dialog panjang hampir tidak ditemukan dalam karya ini. Bahasa tubuh, suara, jeda, napas, dan gerak berulang menjadi alat utama komunikasi. Suasana sunyi yang intens justru menjelma menjadi semacam mantera, menghadirkan sensasi spiritual dan pengalaman teatrikal yang mendalam.

“Kinrohosi dan Hikayat Tolak Bala” adalah lebih dari sekadar pertunjukan teater. Ia adalah ritus artistik, tafsir bebas atas bencana, sekaligus bentuk perlawanan budaya terhadap dominasi narasi modern yang kerap menyingkirkan kearifan lokal. Di bawah arahan Abdul Latif Apriaman, karya ini memperlihatkan bagaimana seni dapat menjadi ruang penyembuhan kolektif, membaca ulang luka sejarah, dan menyuarakan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata biasa.

Pertunjukan ini telah diunggah dalam bentuk video dramatik reading di kanal YouTube Sekolah Wayang Sasak dan dapat disaksikan melalui tautan berikut: https://youtu.be/lkSvvxYuBSI

< a title=" milad bima 2025" target="_blank">

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!