Ran: Penjaga rasa, sakralitas, dan martabat kuliner Adat Sasak

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Lombokvibes.com, Lombok Tengah– Dalam tradisi masyarakat Sasak, dapur bukan sekadar ruang untuk memasak. Ia adalah pusat sakral yang dijaga oleh sosok khusus bernama Ran. Bukan perempuan seperti dalam keseharian, melainkan pria yang dipercaya memegang kendali penuh atas dapur setiap kali upacara adat digelar.

Seorang Ran bukan hanya juru masak. Ia adalah penjaga cita rasa, kesakralan, dan kehormatandalam setiap hidangan adat, baik saat roah maupun begawai. Gelar Ran biasanya diwariskan secara turun-temurun dalam garis keluarga. Karena itu, setiap Ran memiliki ciri khas dan rahasia kuliner yang unik, tidak bisa sekadar dipelajari di sekolah memasak.

Lebih jauh, masyarakat Sasak meyakini Ran memiliki kekuatan magis. Ia mampu menjaga makanan dari gangguan gaib—seperti nasi yang gagal matang atau lauk yang cepat basi. Kehadiran Ran menjadi jaminan bahwa setiap sajian layak disantap tamu, sekaligus memelihara nilai spiritual di baliknya.

Dalam praktiknya, Ran juga menjadi pusat koordinasi gotong royong. Warga saling bahu membahu menyiapkan hajatan, sementara Ran memimpin jalannya dapur. Ia bukan hanya menghasilkan hidangan, melainkan juga mengikat kebersamaan, melestarikan kuliner leluhur, dan menjaga martabat budaya Sasak.

Dengan demikian, Ran bukan sekadar “master chef” adat, tetapi simbol kehormatan yang menegaskan bahwa dalam setiap sajian Sasak, terkandung nilai spiritual, tradisi, dan identitas yang terus diwariskan lintas generasi.

Menariknya, keahlian Ran tidak lahir dari sekolah kuliner, melainkan diwariskan secara turun-temurun. 

Setiap Ran membawa ciri khas keluarganya sendiri, menjadikannya “master chef” dalam tradisi Sasak yang unik dan sarat nilai spiritual.

Kini, tradisi itu tidak hanya hidup di ruang adat, tetapi juga tampil di panggung publik. Pada Bondjeroek Culture Festival (BCF) 2025 beberapa waktu lalu, Desa Wisata Bonjeruk menghadirkan Ran dalam ajang cooking competition bertajuk Pawon 21.

Dalam kompetisi itu, para Ran beradu keahlian mengolah tiga kuliner khas Sasak: Sate Kuncung, Ebatan, dan Ayam Merangkat. Setiap hidangan tidak sekadar soal rasa, tetapi juga tentang marwah budaya yang dijaga dengan penuh khidmat.

Festival ini sekaligus menjadi ruang apresiasi terhadap Ran—sosok yang selama ini bekerja di balik layar, namun menjadi pilar penting dalam melestarikan warisan kuliner Sasak.

< a title=" milad bima 2025" target="_blank">

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *