Lombokvibes.com, Korea Selatan – Seni tradisi Indonesia kembali mencatat sejarah di panggung dunia. Sekolah Pedalangan Wayang Sasak (SPWS) berhasil meraih penghargaan bergengsi Jeonju International Award for Preserving Intangible Cultural Heritage (JIAPICH) 2025.
Penghargaan tersebut diserahkan pada Rabu (24/9/2025) di Aula Pertunjukan Pusat Kebudayaan Tradisional Korea (KTCC), sekaligus menjadikan SPWS sebagai lembaga pertama dari Indonesia yang menerima apresiasi internasional ini.
Tidak hanya menerima penghargaan, tim SPWS juga tampil memukau dengan lakon Umar Maye bertajuk “Seeds of Peace From The East.”
Pertunjukan yang dipimpin Ki Dalang H. Safwan itu mengusung pesan perdamaian melalui simbol-simbol dan filosofi Wayang Sasak. Penonton Korea maupun para pegiat budaya internasional memberikan apresiasi hangat, melihatnya sebagai medium universal untuk menyampaikan pesan damai lintas bangsa.
Fitri Rachmawati, pendiri sekaligus penggagas SPWS yang turut mendampingi rombongan, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas pencapaian ini. Ia menekankan bahwa penghargaan tersebut adalah hasil kerja kolektif seluruh tim.
“Sejak awal kami berkomitmen melakukan langkah inovatif agar Wayang Sasak tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan ruhnya sebagai tuntunan, bukan sekadar tontonan. SPWS terus menguatkan gerakan literasi berbasis budaya melalui Wayang Sasak,” ungkap perempuan yang akrab disapa Pikong itu.
Menurut Pikong, inovasi menjadi kunci yang membuat Wayang Sasak tetap hidup. Dari pertunjukan tradisional dengan wayang kulit hitam putih, hadir kemudian wayang berwarna, hingga kini berkembang menjadi wayang tiga dimensi menggunakan media botol. Terobosan inilah yang menjadi salah satu alasan SPWS mendapat penilaian terbaik dari JIAPICH.
“Meski penghargaan ini pencapaian besar, kami tidak akan berhenti. Pelestarian budaya takbenda harus menjadi gerakan bersama, agar kesadaran kolektif tumbuh dan peninggalan leluhur kita tetap hidup,” tambahnya.
Wahyu Kurnia, tim kreatif SPWS sekaligus Kaprodi Sendratasik Universitas Nahdlatul Ulama NTB, menilai pencapaian ini sebagai buah kesungguhan panjang. Baginya, pertunjukan Wayang Sasak di Korea bukan sekadar hiburan, tetapi sarana menyampaikan makna Islam sebagai keselamatan atau perdamaian.
“Semoga langkah kecil dan pesan sederhana ini bisa tertanam dalam jiwa setiap yang mengapresiasi,” ujarnya.
Pencapaian SPWS di Korea Selatan menjadi bukti bahwa seni tradisi lokal memiliki daya hidup global. Melalui kerja kolektif, inovasi, dan semangat menjaga warisan leluhur, Wayang Sasak tidak hanya bertahan, tetapi juga menorehkan sejarah baru di kancah internasional.












































