Aktivis lingkungan aksi tolak pembangunan seaplane & glamping di Rinjani

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Lombokvibes.com, Lombok Timur– Ribuan massa dari aktivis lingkungan dan masyarakat yang tergabung dalam aliansi Rinjani Memanggil berkumpul dalam aksi damai yang mengguncang gerbang Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR),  Selasa, 9 Juli 2025.

Aksi ini tidak hanya menjadi unjuk rasa biasa, tapi simbol perlawanan terhadap eksploitasi alam dan komersialisasi kawasan konservasi yang dinilai telah mengabaikan nilai spiritual, ekologis, dan sosial yang melekat kuat di kawasan Danau Segara Anak. Para demonstran datang membawa semangat satu suara: Rinjani bukan ruang investasi, tapi ruang kehidupan.

Tujuh tuntutan utama disampaikan secara lantang oleh massa aksi, mulai dari pembatalan permanen proyek SeaGlamping dan seaplane, audit tata kelola TNGR, perlindungan Danau Segara Anak sebagai ruang spiritual, transparansi anggaran, revisi zonasi kawasan, hingga evaluasi seluruh perizinan pariwisata di TNGR.

Koordinator Aksi, Wahyu Habbibullah, menegaskan bahwa proyek ini mengkhianati prinsip pelestarian lingkungan. Menurutnya, kawasan Rinjani bukan sekadar objek pariwisata, melainkan ekosistem hidup yang menyatu dengan budaya dan sejarah masyarakat lokal.

  • 168a2932-c740-40d2-a966-b8a63978ec50

“Proyek ini tidak hanya merusak, tapi juga mengabaikan hak masyarakat adat dan semua pihak yang telah menjaga Rinjani. Ini bukan pembangunan, ini penyeragaman kehancuran alam atas nama pariwisata,” ucap Wahyu dalam orasinya yang mengundang sorakan setuju dari massa.

Aksi ini juga disertai teatrikal lingkungan yang menggambarkan kehancuran alam akibat investasi pariwisata yang tak terkendali. Visualisasi tersebut menjadi simbol kuat bahwa suara alam sedang meminta perlindungan.

Dukungan terhadap gerakan ini datang dari berbagai pihak, termasuk WALHI NTB dan kalangan akademisi. Amri Nuryadin, Direktur Eksekutif WALHI NTB, menilai negara telah gagal menempatkan prinsip ekologi sebagai prioritas utama dalam pengelolaan TNGR.

“Negara harus sadar bahwa TNGR bukan tempat bermain investor. Setiap kebijakan yang merusak kawasan ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap konstitusi ekologis kita,” tegas Amri.

Senada dengan itu, akademisi lingkungan, Ahmad Junaidi, Ph.D., menyampaikan kekhawatiran mendalam terhadap dampak ekologis jangka panjang yang dapat ditimbulkan jika proyek tersebut terus dilanjutkan.

“Ekosistem Rinjani sudah sangat rapuh. Jika proyek ini diteruskan, kita hanya akan mempercepat krisis ekologis yang pada akhirnya merugikan generasi masa depan,” ujarnya.

Aksi damai ini berakhir pukul 12.00 WITA setelah perwakilan massa menyerahkan surat tuntutan resmi kepada Balai TNGR. 

Kasubag Tata Usaha, Teguh Rianto, menyambut massa aksi dan menyatakan komitmen pihaknya untuk membuka ruang dialog terbuka dan partisipatif.

“Rinjani adalah tanggung jawab kita bersama. Kami akan terus berupaya menciptakan pengelolaan yang adil, lestari, dan berpihak pada alam serta masyarakat,” kata Teguh dalam pernyataannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!