Lombokvibes.com, Lombok Utara- Meski hujan mulai turun di sejumlah wilayah, krisis air bersih di Kabupaten Lombok Utara (KLU) belum juga berakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memang menyebut saat ini Indonesia tengah mengalami fenomena “kemarau basah”, namun curah hujan yang tidak merata belum cukup untuk mengatasi kekeringan yang melanda sebagian besar wilayah timur Lombok Utara.
Pemerintah Kabupaten Lombok Utara melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tetap menetapkan status siaga kekeringan. Distribusi air bersih terus dilakukan hampir setiap hari ke sejumlah desa yang terdampak.
Kepala BPBD Lombok Utara, M. Zaldi Rahadian, mengatakan permintaan air bersih dari masyarakat masih tinggi dan belum menunjukkan tanda-tanda menurun.
“Kondisi kemarau basah ini memang membuat hujan turun sesekali, tapi kebutuhan air bersih tetap tinggi, terutama di wilayah timur. Hampir setiap hari ada permintaan baru yang masuk,” ujar Zaldi, Kamis (9/10/2025).
Dalam sebulan terakhir, Bank NTB Syariah turut membantu BPBD dengan menyalurkan air bersih secara rutin setiap akhir pekan. Zaldi berharap kolaborasi seperti ini dapat meluas, melibatkan pelaku usaha dan pihak swasta lain yang memiliki armada pengangkut air.
“Di wilayah timur, masyarakat harus mengeluarkan sekitar Rp300 ribu untuk membeli satu tangki air bersih yang hanya cukup untuk seminggu. Jadi kondisinya memang berat. Kami harap lebih banyak pihak bisa ikut membantu,” jelasnya.
Namun, Zaldi mengakui keterbatasan armada menjadi kendala utama dalam menjangkau seluruh desa terdampak.
“Kami berupaya maksimal, tapi armada kami terbatas. Karena itu, kami juga menjalin kerja sama dengan Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Kementerian PUPR yang mulai kembali berkoordinasi dengan kami,” ungkapnya.
Menurutnya, tahun ini BPPW berencana memberikan hibah satu unit mobil tangki air kepada BPBD Lombok Utara. “Dulu belum pernah ada dukungan dari BPPW, tapi sekarang mereka sudah ikut terlibat dan siap membantu. Kami sedang proses administrasinya agar hibah ini bisa segera terealisasi,” tambahnya.
Dari hasil pemetaan BPBD, terdapat 37 desa di Lombok Utara yang masih terdampak kekeringan. Wilayah paling parah berada di Kecamatan Kayangan, Bayan, dan Gangga. Beberapa titik mulai membaik berkat hujan lokal, namun sebagian besar masih membutuhkan suplai air bersih setiap hari.
“Distribusi kami atur bergantian agar merata. Misalnya, hari ini wilayah A, besok ke titik lain. Kami tidak ingin hanya satu lokasi yang terus disuplai. Koordinasi juga terus dilakukan dengan PMI dan OPD terkait agar penyaluran tepat sasaran,” terang Zaldi.
Ia menjelaskan bahwa BPBD bersama instansi teknis telah menyusun Kajian Risiko Bencana (KRB) dan Rencana Aksi Kekeringan yang memuat strategi jangka panjang.
“Selama ini solusi kami masih jangka pendek, yakni suplai air tangki. Tapi dalam dokumen KRB sudah ditetapkan titik-titik yang perlu dibangun jaringan pipa permanen agar masyarakat tidak terus bergantung pada distribusi air,” katanya.
Zaldi menambahkan, kondisi unik juga terjadi di beberapa wilayah yang mulai diguyur hujan. “Ada masyarakat yang tetap meminta air bersih meski hujan turun, karena air dari pipa rumah mereka tidak layak konsumsi akibat tercampur kotoran,” tutupnya.
Krisis air bersih di Lombok Utara menjadi pengingat bahwa meski langit mulai meneteskan hujan, upaya membangun sistem air bersih yang berkelanjutan masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi daerah ini.








































