Lombokvibes.com, Lombok Utara— Pemerataan kunjungan wisatawan di Kabupaten Lombok Utara (KLU) masih menghadapi pekerjaan rumah. Di tengah kuatnya daya tarik Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air, sejumlah destinasi wisata di daratan belum sepenuhnya siap menyambut lonjakan kunjungan.
Dinas Pariwisata (Dispar) KLU mengakui, pengembangan wisata darat masih terkendala persoalan penataan kawasan, keterbatasan fasilitas pendukung, hingga status kepemilikan lahan.
Sekretaris Dispar KLU, Fadly, S.Pd., mengatakan pihaknya tengah menyiapkan strategi promosi untuk mendorong wisatawan yang berkunjung ke kawasan Tiga Gili agar turut menjelajahi destinasi wisata di daratan Lombok Utara.
“Rencana promosi kita adalah melakukan promosi di darat, supaya ada pemerataan kunjungan dari Tiga Gili ke wilayah darat,” ujar Fadly, 9 Oktober 2026.
Namun, promosi saja dinilai belum cukup. Sejumlah destinasi masih membutuhkan pembenahan sebelum benar-benar siap dipasarkan lebih luas.
Fadly mencontohkan kawasan wisata Senaru yang masih membutuhkan penambahan dan penyelesaian fasilitas pendukung, termasuk toilet untuk menunjang kenyamanan pengunjung.
Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah kepastian status lahan. Dispar KLU tidak ingin penataan destinasi justru terhambat akibat persoalan legalitas yang belum diselesaikan sejak awal.
“Di tempat-tempat lain terkendala masalah clean and clear lahan. Ini masih kita komunikasikan bagaimana supaya penataan tidak bertentangan dengan aturan. Kita tidak ingin persoalan lahan baru diselesaikan di tengah-tengah proses penataan karena itu justru akan menghambat pembangunan,” jelasnya.
Untuk memetakan persoalan tersebut, Bidang Destinasi Dispar KLU saat ini melakukan pengecekan langsung ke sejumlah kawasan wisata. Inventarisasi mencakup kondisi destinasi, status lahan, hingga kebutuhan fasilitas yang harus dibenahi.
Sayangnya, pendataan belum bisa dituntaskan dalam waktu singkat. Selain cakupan wilayah yang luas, keterbatasan anggaran operasional juga menjadi hambatan.
“Inventarisasi masih dalam tahap berjalan dan belum selesai semua karena wilayahnya luas sekali, sementara anggaran operasional kita sangat terbatas,” ungkap Fadly.
Sejumlah kawasan yang masuk perhatian Dispar KLU antara lain Desa Adat Gumantar, Santong, dan Desa Satriyan. Komunikasi dengan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) di Santong dan Satriyan juga terus dilakukan untuk menjajaki kesiapan pengembangan destinasi.
Sementara itu, kawasan Senaru, Desa Bayan, dan Karang Bajo dinilai relatif lebih siap dibandingkan sejumlah wilayah lainnya. Meski begitu, pembenahan fasilitas dan infrastruktur pendukung tetap diperlukan.
Tantangan ini menunjukkan bahwa pemerataan pariwisata Lombok Utara bukan sekadar persoalan memperluas promosi. Kesiapan destinasi, kepastian lahan, dan ketersediaan fasilitas menjadi faktor penting agar wisata darat mampu bersaing dan ikut menikmati manfaat ekonomi dari sektor pariwisata.
Jika strategi tersebut berjalan beriringan dengan pembenahan di lapangan, wisatawan yang datang ke Lombok Utara diharapkan tidak hanya mengenal Tiga Gili, tetapi juga menjelajahi potensi alam dan budaya yang tersebar di kawasan daratan.





























