Lombokvibes.com, Lombok Utara – Puluhan warga Dusun Tanak Sanggar, Desa Sokong, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara, melakukan aksi protes dengan cara menanam pohon pisang di sepanjang badan jalan dusun, Senin sore (22/12/2025.
Aksi ini menjadi simbol kekecewaan warga atas kondisi jalan yang rusak parah dan tak kunjung mendapat perbaikan sejak terakhir diaspal pada 2013.
Kepala Dusun Tanak Sanggar, Kasianto, mengatakan aksi tersebut terjadi spontan meski sebelumnya telah dilakukan koordinasi dengan warga agar tidak melakukan penanaman pohon di jalan.
“Awalnya saya sudah koordinasi dengan warga supaya tidak menanam pisang di jalan. Tapi setelah ba’da asar, warga datang ramai-ramai. Jumlahnya banyak sekali, saya tidak bisa membendung,” ujar Kasianto saat dikonfirmasi lombokvibes.
Ia menjelaskan, aksi tersebut dipicu oleh sejumlah peristiwa yang dinilai membahayakan keselamatan warga. Salah satunya kejadian tahun lalu ketika seorang anak mengalami kecelakaan saat hendak berangkat ke sekolah.
“Ada warga yang bawa anaknya ke sekolah, jatuh di jalan ini sampai pahanya patah,” ungkapnya dengan getir.
Selain itu, kondisi jalan juga menyulitkan proses sosial kemasyarakatan. Kasianto menuturkan, pernah terjadi kasus warga meninggal dunia dari RSUD, namun ambulans tidak dapat melintasi jalan tersebut.
“Ambulan tidak bisa lewat. Akhirnya semua masyarakat gotong royong mengangkat jenazah. Itu sangat menyentuh hati warga,” katanya.
Karena alasan itulah, warga Dusun Tanak Sanggar mendesak pemerintah daerah agar segera melakukan perbaikan jalan.
“Tuntutan masyarakat jelas, kepada Bupati, Wakil Bupati, dan dinas terkait supaya jalan di Dusun Tanak Sanggar ini segera diperbaiki,” tegas Kasianto.
Hal senada disampaikan salah satu warga, Surianto. Ia menyebut persoalan jalan di Tanak Sanggar bukan hanya soal kerusakan fisik, tetapi juga menyangkut kejelasan legalitas jalan.
“Tuntutan pertama warga adalah legalitas jalan ini. Yang kedua, jalan ini terakhir dapat aspal tahun 2013, dan sampai 2025 belum pernah tersentuh perbaikan,” kata Surianto dikonfirmasi terpisah.
Menurutnya, kondisi jalan sangat mengkhawatirkan. Saat musim kemarau, debu beterbangan dan batu berserakan, sementara di musim hujan jalan menjadi licin dan nyaris tak layak dilalui.
“Ini sangat berbahaya, baik untuk motor maupun mobil,” ujarnya.
Surianto menegaskan, jalan Tanak Sanggar merupakan akses vital yang menghubungkan Desa Sokong dengan Desa Teniga, serta menjadi jalur tercepat menuju Puskesmas, kantor camat, dan sejumlah instansi pelayanan publik lainnya.
“Ini akses paling dekat ke puskesmas, kantor camat, dan OPD lainnya. Bahkan warga desa tetangga juga banyak yang lewat jalan ini,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa pada akhir 2023, jalan tersebut sempat diukur dan dipasang patok, sehingga menumbuhkan harapan warga. Namun hingga kini, belum ada realisasi perbaikan.
“Sudah belasan tahun jalan ini tidak diperhatikan. Kami hanya ingin jalan yang layak dilalui sepeda motor dan mobil,” ucapnya.
Dusun Tanak Sanggar sendiri dikenal sebagai wilayah dengan potensi hasil bumi yang melimpah, mulai dari kelapa, kakao, pisang, durian, hingga jambu mete.
Jalan tersebut juga menjadi penghubung beberapa dusun di Desa Teniga, seperti Betumping dan Onggong, serta akses utama warga menuju sekolah.
Warga berharap, aksi penanaman pohon pisang ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan legislatif agar aspirasi mereka benar-benar dikawal.
“Harapan kami, tahun 2025 ini ada tindakan nyata dari pemerintah daerah dan pihak terkait,” pungkas Surianto.




























