Lombokvibes.com, Lombok Tengah – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal mengajak masyarakat memaknai tradisi Bau Nyale sebagai warisan kearifan lokal yang sarat filosofi, terutama tentang pengorbanan dan harapan akan kemakmuran. Pesan itu ia sampaikan saat menghadiri Malam Puncak Pesona Bau Nyale 2026 bertajuk The Legend of Mandalika di Pantai Seger, Lombok Tengah, Sabtu (7/2) malam.
Meski perayaan puncak Bau Nyale tahun ini diguyur hujan, antusiasme masyarakat tidak surut. Ribuan warga hingga wisatawan, termasuk wisatawan mancanegara, tetap memadati kawasan Pantai Seger untuk mengikuti salah satu agenda pariwisata budaya terbesar di NTB tersebut.
Gubernur hadir didampingi Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri, Kapolda NTB Irjen Pol Edy Murbowo, serta Wakapolda NTB Brigjen Pol Hari Nugroho.
“Alhamdulillah kita dapat bertemu di malam ini bukan sekadar menangkap nyale, tetapi kita belajar dari kearifan lokal yang ada di Bau Nyale,” ujar Iqbal di hadapan masyarakat.
Menurutnya, Bau Nyale tidak hanya penting sebagai atraksi budaya yang memikat wisatawan, tetapi juga menjadi pengingat nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat Sasak. Tradisi tersebut, kata dia, mengajarkan makna pengorbanan sekaligus menjadi simbol harapan bagi kesejahteraan bersama.
Di sisi lain, Malam Puncak Bau Nyale juga dinilai membawa dampak ekonomi nyata bagi warga sekitar. Aktivitas UMKM terlihat meningkat seiring membludaknya pengunjung, sementara hiburan panggung yang menampilkan musisi lokal hingga tembang Sasak turut memperkuat daya tarik acara.
Iqbal juga menyinggung hujan yang turun sepanjang acara. Alih-alih dianggap mengganggu, ia meminta masyarakat memaknainya sebagai pertanda baik dan doa untuk kemakmuran daerah.
“Mudah-mudahan hujan ini tanda berkah. Kan seperti itu kita berdoa agar makmur, nah makanya hujan ini turun agar makmur mendunia, insya Allah. Selamat menikmati acara Bau Nyale, mari kita sama-sama menikmati dan mudah-mudahan membawa berkah buat kita semua,” tutupnya.
Malam Puncak Pesona Bau Nyale sendiri merupakan agenda tahunan pariwisata NTB yang selalu dinantikan. Selain menjadi magnet wisata budaya, acara ini juga menjadi ruang promosi bagi pelaku ekonomi lokal sekaligus memperkuat citra Mandalika sebagai destinasi kelas dunia.








































