Lombokvibes.com, Lombok Timur– Saat mendaki pesona alam Sembalun yang terkenal dengan hamparan sawah dan megahnya Gunung Rinjani, tak banyak yang tahu bahwa di balik keindahan lanskap itu tersimpan sejarah panjang sebuah komunitas: Desa Beleq, desa adat yang dipercaya sebagai tempat awal mula terbentuknya masyarakat Sembalun.
Terletak di dalam kawasan Taman Wisata Pusuk Sembalun, Desa Beleq menjadi destinasi wisata budaya yang tak hanya menyuguhkan pemandangan, tetapi juga pengalaman hidup langsung dari masa lampau. Desa kecil ini hanya terdiri dari tujuh rumah tradisional, namun setiap bangunannya menyimpan nilai sejarah dan filosofi yang diwariskan secara turun-temurun.
Berbeda dengan museum modern yang dipenuhi display kaca dan papan informasi, Desa Beleq justru menghargai interaksi nyata—antara pengunjung, warga, dan adat yang masih dijalankan dengan khidmat. Rumah-rumah di desa ini masih dibangun dengan gaya arsitektur asli, lengkap dengan bahan-bahan alami yang mencerminkan kehidupan zaman dahulu.
“Desa ini bukan hanya tempat tinggal, tapi juga simbol sejarah. Setiap rumah punya cerita, setiap upacara punya makna,” ujar salah satu pemandu yang kerap menyambut wisatawan dengan kisah lisan yang memikat.
Di Desa Beleq, pengunjung bisa menyaksikan berbagai ritual adat, mendengar kisah perjuangan leluhur, dan memahami bagaimana masyarakat Sembalun membangun kehidupan yang harmonis dengan alam. Warga setempat dengan bangga mempertahankan budaya mereka—sebuah bentuk perlawanan terhadap arus modernisasi yang kerap menggerus identitas lokal.
Untuk menikmati kekayaan budaya ini, pengunjung hanya perlu membayar tiket masuk sebesar Rp5.000. Biaya parkir pun sangat bersahabat. Namun nilai sejati dari kunjungan ini terletak bukan pada jumlah rupiah yang dikeluarkan, melainkan pengalaman menyelami akar sejarah Lombok Timur secara langsung.
Bagi wisatawan yang mencari lebih dari sekadar pemandangan, Desa Beleq adalah jawaban. Ini bukan hanya tentang mengabadikan momen dengan kamera, tapi juga merasakan kehidupan, belajar tentang identitas, dan mengapresiasi kearifan lokal yang masih dijaga dengan sepenuh hati.




























