Di tengah fashion modern, kain tenun Bayan tetap bertahan karena cerita dan nilai sakral

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Lombokvibes.com, Lombok Utara– Di tengah derasnya arus fashion modern dan produk tekstil pabrikan, tenun tradisional Bayan di Kabupaten Lombok Utara masih mampu bertahan dan memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat.

Bagi warga Bayan, kain tenun bukan sekadar produk kerajinan atau pelengkap busana. Di balik setiap helainya tersimpan cerita, nilai budaya, hingga fungsi sakral yang diwariskan turun-temurun.

Pengelola Wastra Lombok Tenun Bayan, BUMMA Bayan, Denda Suria Sari, mengatakan keberlangsungan tenun Bayan hingga saat ini tidak lepas dari makna yang terkandung dalam setiap proses pembuatan dan penggunaannya.

“Tenun Bayan tetap bertahan karena ada cerita di balik pembuatan dan penggunaannya. Kain Bayan tidak hanya digunakan untuk santai atau fashion, tetapi juga memiliki fungsi dalam berbagai ritual adat,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Menurut Denda, sebagian besar kain tenun Bayan masih digunakan dalam berbagai prosesi adat masyarakat Bayan, sehingga keberadaannya tetap terjaga meski tren fashion terus berubah.

Menariknya, saat ini pembeli tenun Bayan justru didominasi kalangan anak muda. Mereka mulai melihat tenun sebagai bagian dari gaya hidup sekaligus identitas budaya yang bisa dipadukan dengan berbagai model busana modern.

“Masyarakat masih memilih tenun Bayan karena motifnya unik dan bisa membuat penampilan lebih fashionable. Anak muda sekarang juga banyak yang tertarik,” katanya.

Dari berbagai motif yang ada, Motif Jong Bayan menjadi yang paling diminati pembeli. Motif ini dikenal sebagai salah satu motif khas yang merepresentasikan identitas tenun Bayan.

Untuk harga, kain dengan Motif Jong Bayan dijual sekitar Rp250 ribu per lembar. Sementara kain lipak satu set dibanderol Rp1,4 juta, motif Londong Abang sekitar Rp600 ribu, dan kain Poleng Bermotif mencapai Rp800 ribu.

Meski peminat masih tinggi, para penenun menghadapi tantangan serius berupa krisis regenerasi dan lamanya proses produksi.

“Tantangan terbesar saat ini adalah regenerasi penenun dan waktu pembuatan kain yang cukup lama,” ungkap Denda.

Namun demikian, harapan untuk masa depan tenun Bayan masih terbuka. Hingga saat ini, masih ada generasi muda yang belajar menenun, bahkan sudah dimulai sejak usia sekolah dasar.

Denda berharap tenun Bayan tidak hanya bertahan sebagai produk kerajinan, tetapi juga tetap menjaga nilai sakral dan identitas budaya masyarakat adat Bayan.

“Harapan kami nilai-nilai luhur, ritual pembuatan, serta penggunaan tenun dalam berbagai upacara adat tetap dilestarikan. Tenun Bayan bukan sekadar kain, tetapi bagian dari identitas budaya masyarakat Bayan,” tutupnya.

Writer: NazraEditor: Dwi ayu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!