Gebyar seni lintas etnis 2025: NTB tampilkan diplomasi budaya dan keberagaman 

Property of Lombokvibes media.
Property of Lombokvibes media.

Lombokvibes.com, Mataram— Selama tiga hari penuh, Taman Budaya Nusa Tenggara Barat (NTB) menjelma menjadi jantung kebudayaan yang berdetak kencang lewat gebyar seni lintas etnis. Dari 26 hingga 28 Mei, panggung terbuka di pusat kebudayaan NTB menjadi ruang temu tradisi, ekspresi, dan kolaborasi antarbudaya, menghadirkan semangat baru diplomasi budaya dari timur Indonesia untuk dunia.

Gebyar Seni Tradisi Lintas Etnis 2025 bukan sekadar festival, melainkan manifestasi komitmen NTB membangun wajah kebudayaan yang inklusif dan mendunia. Dengan mengusung tema keberagaman sebagai kekuatan, acara ini mempertemukan 15 komunitas seni dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Lombok, Yogyakarta, dan Bandung. Lebih dari itu, dua seniman asal Austria, Thelonious Hamel dan Jenny Szabo, turut menambahkan warna global dalam panggung kolaboratif ini.

Kepala Taman Budaya NTB, Lalu Suryadi Mulawarman, menyebut acara ini sebagai langkah strategis menuju kebudayaan NTB yang dinamis dan berdaya saing tinggi di tingkat internasional. Ia menekankan pentingnya menyatukan kekuatan komunitas seni yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.

“Sekarang saatnya menyusun ulang potensi besar itu dalam satu visi kolektif yang kuat,” ujarnya.

Tak hanya menjadi ruang pertunjukan, festival ini juga difungsikan sebagai laboratorium budaya. Setiap penampilan menjadi medium untuk menyampaikan nilai, menyatukan identitas, dan memperlihatkan bagaimana perbedaan bisa menjelma kekuatan.

“Ini bukan ajang kompetisi. Ini panggung kolaborasi dan perjumpaan antaretnis dengan semangat kekinian,” lanjut Lalu Suryadi.

Legitimasi acara ini turut ditegaskan lewat kehadiran sejumlah tokoh penting, seperti Pelaksana Harian Kepala Dinas Pariwisata NTB, Chandra Aprinova, serta Kepala Bidang Kebudayaan Dikbud NTB, Lalu Abdurrahim. Perwakilan dari komunitas Sunda, Jawa, Sasak, Samawa, Mbojo, Bugis, Melayu, dan Arab pun ambil bagian dalam perayaan keberagaman ini.

Dalam sambutannya, Chandra Aprinova menyampaikan bahwa seni merupakan sarana memperkuat persatuan dan menjadi pilar penting dalam strategi pariwisata berkelanjutan.

“Seni bukan sekadar hiburan. Ia adalah jalan membangun toleransi, memperkuat identitas, dan membuka mata dunia terhadap kekayaan budaya kita,” ujarnya.

Sementara itu, pemerhati budaya L. Agus Fathurahman menekankan perlunya revitalisasi peran Taman Budaya sebagai pusat perencanaan dan pengembangan kebudayaan, bukan hanya sebagai tempat pertunjukan. Ia juga menyerukan sinergi antara seniman otodidak dan akademik demi menciptakan ekosistem budaya yang produktif.

NTB, dengan lanskap etnis yang kaya—dari Sasak, Samawa, Mbojo hingga komunitas perantauan seperti Jawa, Arab, Bugis, dan Melayu—menjadi cerminan harmoni Indonesia dalam skala kecil. Keberagaman ini menjadi fondasi kuat dalam pembangunan diplomasi budaya yang tak hanya lokal tapi juga global.

Lalu Abdurrahim dari Dikbud NTB menambahkan bahwa seni tradisi telah menjadi alat penting dalam pembinaan komunitas sekaligus penggerak sektor ekonomi kreatif di NTB. Taman Budaya, ujarnya, adalah episentrum dari transformasi budaya ini.

Dengan pendekatan yang menggabungkan ekspresi lokal dan koneksi global, Gebyar Seni Tradisi Lintas Etnis 2025 menandai kebangkitan NTB sebagai rumah budaya yang aktif, progresif, dan siap bersuara di panggung dunia.

NTB kini tidak hanya mempesona lewat keindahan alamnya, tetapi juga melalui kekuatan narasi budayanya—mengirimkan pesan damai dan kolaborasi dari timur Indonesia untuk seluruh dunia.

< a title=" milad bima 2025" target="_blank">

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *